Bab 1: 
Pendaratan di Pasir Putih



Namaku Candida Revoluta. Panggil saja Candy. Jangan tanya kenapa orang tuaku memberiku nama seperti nama latin tanaman atau bakteri, mungkin saat itu Ayah sedang hobi membaca ensiklopedia biologi. Tapi Ibuku bilang, "Revoluta" itu biar aku selalu membawa perubahan. Ya, perubahan. Seperti sekarang ini.

Aku baru saja lulus Arsitektur. Harusnya aku sedang duduk di studio ber-AC di Jakarta, menggambar denah rumah mewah untuk orang kaya yang bingung menghabiskan uangnya. Tapi tidak. Aku ada di sini. Di sebuah *speedboat* yang terguncang hebat oleh ombak Laut Banda, menuju sebuah titik kecil di peta Indonesia bagian Timur.

"Tahan, Nona! Sebentar lagi sampai!" teriak juru mudi, suaranya kalah oleh deru mesin tempel 40 hp yang meraung-raung.

Aku mengangguk, menahan mual. Di depanku, lautan biru tua membentang tanpa batas. Indah, tapi mengerikan.

Tujuan kami adalah sebuah desa. Desa yang katanya ada di ujung dunia. Tidak ada jalur darat. Kiri kanan hutan lebat, depan laut lepas. Kalau mau ke kota, harus bertaruh nyawa di laut selama berjam-jam.

"Itu desanya!"

Aku menyipitkan mata. Di kejauhan, terlihat garis pantai putih menyilaukan dan deretan pohon kelapa. Tidak ada dermaga. Sama sekali tidak ada. Hanya pasir putih yang landai.

*Speedboat* melambat. Mesin dimatikan. Hening seketika, hanya suara ombak memecah pantai.

"Turun di air ya, Nona. Tarik celana ke atas," kata juru mudi itu sambil melempar jangkar kecil.

Aku menghela napas. Sepatu kets mahalku bakal basah. Baru saja aku mau berdiri dengan canggung, menyeimbangkan diri agar tidak jatuh ke air laut setinggi lutut, seseorang sudah berdiri di samping lambung kapal.

Laki-laki.

Dia bukan warga lokal, kelihatannya. Kulitnya terbakar matahari, cokelat gelap, tapi wajahnya khas anak kota yang terlalu lama main di alam. Rambutnya agak gondrong, berantakan ditiup angin laut. Dia memakai kaos oblong hitam yang sudah agak pudar warnanya, bertuliskan: *

"sudo rm -rf /"* 

(Aku tidak tahu apa artinya saat itu). Dan celana pendek kargo yang penuh kantong.

"Sini tasnya," katanya. Suaranya datar. Tidak ada senyum.

Aku menyerahkan ransel besarku. Dia menangkapnya dengan satu tangan seolah itu bantal kapas, lalu memanggulnya di bahu kiri.

"Terima kasih," kataku.

Dia menatapku sebentar. Tatapannya tajam, seperti sedang men-scan *barcode*. "Kamu arsitek itu, ya?"

"Iya. Candy."

"Dhyo," jawabnya singkat. "Pakai Y. Biar gaul."

Dia mengulurkan tangan. Bukan untuk bersalaman, tapi untuk membantuku turun dari bibir *speedboat*. Tangannya kasar dan hangat.

"Awas, ada bulu babi di sebelah kiri. Jangan diinjak, nanti kamu demam. Di sini nggak ada rumah sakit, adanya dukun patah tulang," katanya santai, lalu berbalik jalan duluan menuju pantai tanpa menungguku.

Itu pertemuan pertamaku dengan Randhy Orion. Atau Dhyo. Laki-laki lulusan Sistem Informasi yang entah kenapa malah tersesat di desa tanpa sinyal ini.

***

Desa ini indah. Sangat indah sampai rasanya tidak adil kalau tidak ada orang luar yang tahu. Tapi juga sangat sepi. Listrik belum masuk sepenuhnya. Hanya ada *genset* milik warga yang suaranya seperti mesin pemotong rumput raksasa, menyala dari jam enam sore sampai jam sepuluh malam. Selebihnya, gelap. Atau kalau beruntung, ada tenaga surya bantuan dana desa yang kadang hidup, kadang mati kalau mendung.

Aku ditempatkan di rumah Pak Kepala Desa. Rumah panggung kayu yang kokoh. Sebagai arsitek, aku langsung menilai strukturnya. Sambungan kayunya rapi, ventilasi silang yang bagus. Tanpa AC pun, angin laut masuk bebas.

Sore itu, setelah membereskan barang, aku keluar rumah. Langit mulai jingga. Matahari di Timur Indonesia itu kalau terbenam tidak malu-malu. Warnanya merah menyala, seolah langit sedang terbakar asmara.

Aku berjalan menuju satu-satunya tempat yang ramai: Balai Desa. 

Kenapa ramai? Karena di situlah satu-satunya benda ajaib bernama Starlink berada. Kotak putih kecil di atas tiang bambu yang menghubungkan desa terisolasi ini dengan dunia luar.

Di sana, aku melihat Dhyo lagi.

Dia duduk di *lencak* bambu, dikelilingi anak-anak kecil berkulit hitam manis yang tertawa-tawa.

"Kak Dhyo! Kak Dhyo! Putar Upin Ipin lagi!" teriak seorang bocah ingusan.

Dhyo sedang memangku laptop. Jari-jarinya menari cepat di atas *keyboard*. Tapi wajahnya bukan wajah orang yang sedang bekerja serius. Dia senyum-senyum sendiri.

"Sebentar. Ini lagi *compile* kodingan. Sabar. Orang sabar disayang Tuhan, orang nggak sabar disayang setan," ujar Dhyo pada bocah-bocah itu.

Aku mendekat. "Kamu guru di sini?"

Dhyo mendongak. "Eh, Arsitek. Sudah mandi? Wangi sabun bayi."

Aku mendelik. "Sembarangan. Ini *floral scent*."

"Sama saja. Wangi kota," katanya sambil menutup laptop sejenak, tapi tidak mematikan layarnya. Layar itu penuh dengan baris-baris kode berwarna-warni dengan latar hitam. "Iya, aku guru. Program pemerintah. Mengajar apa saja. Matematika, Bahasa Inggris, sampai cara manjat pohon kelapa kalau perlu."

Aku duduk di sebelahnya, menjaga jarak sedikit. "Lulusan IT, tapi ngajar di pedalaman. Nggak sayang ilmunya?"

Dhyo tertawa kecil. Renyah sekali. Berbeda dengan sikap dinginnya tadi siang di pantai. "Ilmu itu kayak air, Candy. Kalau ditampung di satu tempat terus, jadi keruh. Harus dialirkan. Lagian, ngoding di sini lebih tenang. Nggak ada bos yang marah-marah minta revisi jam dua pagi. Paling cuma nyamuk yang minta darah."

"Kamu ngoding apa?"

"Bikin sistem database buat desa. Biar Pak Kades nggak nyatet data penduduk di buku tulis yang sudah dimakan rayap. Sekalian iseng bikin *game* buat anak-anak ini belajar hitung-hitungan."

Aku tertegun. Laki-laki ini aneh. Dia bicara soal *database* di tempat yang listriknya saja kembang kempis.

"Kamu sendiri? Ngapain jauh-jauh ke sini? Mau bangun mall?" tanya Dhyo, matanya menyelidik.

"Nggak lah. Aku dari lembaga penelitian. Mau memetakan potensi desa untuk pembangunan infrastruktur dasar. Sanitasi, air bersih, tata ruang."

"Hmm," Dhyo mengangguk-angguk. "Bagus. Asal jangan bangun gedung tinggi aja. Nanti langitnya ketutupan. Sayang, bintang di sini bagus banget kalau malam."

Tiba-tiba, suara *genset* di kejauhan menderu mati. *Pet!*

Gelap gulita.

Anak-anak berteriak kecewa. "Yaaaah! Mati lampu!"

Hanya ada cahaya dari layar laptop Dhyo yang menerangi wajahnya. Dia terlihat... tenang.

"Tenang," kata Dhyo. "Tunggu sebentar."

Dia merogoh saku kargonya, mengeluarkan senter kepala (*headlamp*), lalu memakaikannya di kepalaku. Bukan di kepalanya.

"Lho? Kamu?" tanyaku bingung saat cahaya senter itu menyorot wajahnya yang kini menyeringai.

"Aku sudah hafal jalan. Kamu anak baru, nanti kesandung akar pohon, nangis. Arsitek nggak boleh cengeng," katanya. Dia berdiri, lalu menepuk celananya. "Ayo, aku antar pulang ke rumah Pak Kades. Udah malam. Nyamuk di sini galak-galak, kayak mantan."

Aku tertawa. "Kamu punya mantan?"

"Punya. Banyak. Tapi semuanya kalah cantik sama bulan malam ini."

"Gombal."

"Itu fakta astronomi, Candy. Bulan itu satelit alami bumi yang setia. Mantan? Cuma satelit nyasar yang numpang lewat."

Kami berjalan beriringan dalam gelap. Hanya sorot senter di dahiku yang membelah jalan setapak berpasir. Di kiri kami, suara ombak terdengar lebih jelas. Di kanan, hutan rimba yang pekat.

"Dhyo," panggilku.

"Hm?"

"Kenapa tadi di pantai kamu judes banget?"

Dia diam sebentar. Kakinya menendang kerikil. "Aku nggak judes. Aku cuma lagi mikir."

"Mikir apa?"

"Mikir, kok ada perempuan nekat yang mau datang ke tempat jin buang anak begini. Biasanya yang datang ke sini cuma pejabat yang mau kampanye, atau petualang nyasar."

"Aku bukan keduanya."

"Iya, tahu. Kamu Candy. Arsitek yang wangi sabun bayi."

"Dhyo!"

Dia terkekeh lagi. Tawa itu entah kenapa membuat udara malam yang lembap jadi terasa lebih sejuk.

"Oh ya, Candy," katanya saat kami sampai di depan tangga rumah Pak Kades.

"Ya?"

"Besok subuh, kalau kamu bangun, coba ke pantai timur. Jangan lupa bawa kamera kalau punya. Atau mata aja cukup."

"Ada apa?"

"Ada *sunrise*. Mataharinya muncul dari laut. Bagus banget. Lebih bagus daripada *render*-an 3D kamu."

Aku tersenyum kecut. "Sombong."

"Jujur itu emang kadang terdengar sombong," sahutnya enteng. "Ya sudah. Masuk sana. Kunci pintu. Jangan mimpiin aku, nanti tidurnya nggak nyenyak."

Lalu dia berbalik, berjalan santai menembus kegelapan tanpa senter, seolah matanya punya *night vision*. Punggungnya perlahan hilang ditelan malam.

Aku masuk ke kamar, melepas *headlamp* milik Dhyo. Benda itu masih hangat.

Malam itu, di dalam kelambu, ditemani suara jangkrik dan debur ombak, aku tidak bisa langsung tidur. Pikiranku melayang pada sosok Dhyo.

Dia aneh.

Satu detik dia dingin seperti tembok beton tak beraci. Detik berikutnya dia hangat seperti secangkir kopi pagi. Dia lulusan IT yang suka mendaki gunung, mengajar anak-anak pedalaman, dan bicara seolah dunia ini cuma panggung komedi baginya.

Di dinding kamar kayu itu, aku melihat cicak diam terpaku.

"Hei, cicak," bisikku. "Kamu kenal Dhyo?"

Cicak itu diam saja. Mungkin dia juga bingung.

Aku membuka ponselku. *No Service*. Tentu saja. Tapi aku tetap mengetik sesuatu di aplikasi catatan (Notes). Kebiasaanku sejak kuliah. Menulis apa saja.

Hari ke-1 di Ujung Timur. 

Namanya Dhyo. Randhy Orion. 

Dia bilang, di sini bintangnya bagus. Tapi menurutku, dia yang lebih misterius dari bintang. 

Dia punya laptop canggih, tapi memilih hidup tanpa listrik. 

Dia punya hati yang baik (kelihatannya), tapi mulutnya kadang minta diplester. 

Dan... dia meminjamkan senternya padaku, membiarkan dirinya jalan di kegelapan.


Aku menutup ponsel. Tersenyum sendiri.

Ah, sial. Baru hari pertama. Kenapa aku jadi *baper* begini? Mungkin karena efek *jetlag*—ah bukan, *boatlag*. Atau mungkin karena Dhyo memang punya gravitasi sendiri.

Besok subuh. Pantai Timur.

Aku penasaran, apakah mataharinya benar-benar seindah yang dia bilang? Atau dia cuma mau pamer kalau dia tahu tempat-tempat bagus di desa ini?

Tapi satu hal yang pasti. Desa sepi ini, tiba-tiba terasa tidak lagi menakutkan. Karena aku tahu, ada orang aneh bernama Dhyo di suatu tempat di luar sana, yang mungkin sedang *coding* ditemani nyamuk, atau sedang menatap langit mencari rasi bintang Orion—namanya sendiri.

Selamat malam, Maluku. Selamat malam, Dhyo yang pakai Y.

***


Catatan Penulis 

Begitulah Candy bertemu Dhyo.

Dhyo itu memang begitu. Jangan kaget. Dia seperti cuaca di pegunungan. Kadang cerah, kadang kabut turun tiba-tiba. Tapi justru itu yang bikin rindu. Kalau cuaca cerah terus, nanti kamu malah kekeringan.

Candy juga begitu. Dia diam, tapi diamnya arsitek itu sedang mengukur. Mengukur ruang, mengukur jarak, dan sekarang... dia mulai mengukur jarak hatinya ke Dhyo.

Masih jauh? Nggak juga. Kan satu desa.