Bab 2:
Kode Biner dan Kopi Pahit di Tepi Pantai
Subuh di desa ini tidak mengenal alarm ponsel. Dia datang lewat kokok ayam jantan yang suaranya parau, mungkin karena kebanyakan merokok atau memang sedang flu. Dan lewat dingin yang menyelinap masuk dari celah-celah papan kayu, memelukku tanpa izin.
Aku terbangun. Mengingat pesan Dhyo semalam. Pantai Timur. Sunrise.
Dengan mata yang masih setengah dipaksakan terbuka, aku mencuci muka. Airnya dingin sekali, seperti sikap dosen pembimbing saat skripsiku belum selesai. Aku mengambil kamera mirrorless-ku, memakai jaket, lalu mengendap-endap keluar rumah Pak Kades.
Langit masih gelap, tapi di ufuk timur sudah ada garis ungu kemerahan. Indah.
Aku berjalan menuju pantai. Pasir putih terasa dingin di telapak kaki (aku melepas sendal, biar terasa menyatu dengan alam, kata anak-anak indie).
Di sana, di atas sebuah batang pohon kelapa yang tumbang menjorok ke laut, ada sesosok manusia.
Itu Dhyo.
Dia sedang duduk bersila. Diam. Tidak bergerak. Di depannya ada kompor portable kecil menyala, merebus air di dalam nesting (panci gunung).
"Kamu sedang memanggil alien?" tanyaku sambil mendekat.
Dhyo menoleh pelan. Tidak kaget. "Alien nggak suka pantai, Candy. Mereka sukanya di ladang gandum Amerika. Sini duduk."
Dia menepuk batang kelapa di sebelahnya.
"Kamu rajin banget subuh-subuh masak air," kataku sambil duduk. Angin laut menerpa wajahku, menerbangkan rambut yang belum sempat kucuci.
"Ini ritual. Namanya: Menunggu Kopi Matang Sambil Memikirkan Negara," jawabnya asal. Dia menuangkan bubuk kopi ke dalam gelas enamel jadul yang sudah somplak pinggirannya. "Mau? Gelasnya cuma satu. Kita ganti-gantian. Tenang, aku nggak punya penyakit menular, kecuali rindu."
Aku tertawa. "Pagi-pagi sudah ngelantur."
"Ini serius. Kopi di sini beda. Ini kopi Ambon, dicampur sedikit doa biar yang minum cepat dapat jodoh." Dia menyodorkan gelas itu padaku. Asapnya mengepul wangi.
Aku menyesapnya sedikit. Pahit, tapi ada rasa gurih rempah. Hangatnya menjalar ke dada. "Enak."
"Jelas enak. siapa dulu baristanya," katanya membanggakan diri, lalu mengambil alih gelas itu dan meminumnya dari sisi yang berbeda.
Kami diam sejenak. Matahari mulai muncul perlahan dari permukaan laut. Bulat sempurna. Warnanya oranye telur asin yang mahal. Cahayanya memantul di air laut yang tenang, menciptakan jalan setapak emas menuju cakrawala.
"Dhyo," panggilku.
"Hadir."
"Kamu kok tahu tempat ini view-nya paling bagus?"
Belum sempat Dhyo menjawab, seorang bapak tua dengan parang di pinggang lewat di belakang kami. Dia membawa jaring ikan.
"Eh, Dhyo! Su bangun?" sapa bapak itu dengan logat Maluku yang kental
Dhyo berdiri, tersenyum lebar. Senyum yang beda. Lebih hormat. "Iyo, Bapa Jou. Su bangun dari tadi. Mau ke laut ka?"
"Iyo. Nanti kalau ada ikan bubara besar, Bapa suruh antar ke rumah nenek moyangmu ya," kata bapak itu lalu tertawa dan berlalu.
Aku mengernyitkan dahi. "Rumah nenek moyang? Pace Dhyo? Maksudnya apa?"
Dhyo duduk lagi. Wajahnya yang tadi tengil berubah sedikit sendu, tapi tetap tenang. Dia menatap matahari yang makin tinggi.
"Aku lahir di sini, Candy," katanya pelan
Aku ternganga. "Hah? Di desa ini?"
"Iya. Di rumah kayu dekat mesjid tua itu. Tapi waktu umurku lima tahun, aku dibawa ke Ambon. Sama Kakek dan Nenek."
"Orang tuamu?"
Dhyo mengambil kerikil, melemparnya ke laut. Plung.
"Ayah sama Ibu meninggal waktu wabah malaria menyerang desa ini, dulu sekali. Waktu itu belum ada puskesmas, belum ada speedboat cepat. Bantuan telat datang," ceritanya. Suaranya datar, tidak ada nada ingin dikasihani. "Jadi ya... aku ini anak yatim piatu yang diimpor ke kota, dikasih makan roti keju, disekolahin tinggi-tinggi, biar jadi orang."
Aku terdiam. Tiba-tiba merasa bersalah karena kemarin menganggapnya anak kota manja yang cuma iseng main ke desa.
"Maaf, Dhyo. Aku nggak tahu."
"Nggak usah minta maaf. Hidup itu kan memang penuh plot twist," katanya sambil nyengir lagi. "Sejak lulus SMA, Kakek meninggal, lalu Nenek nyusul setahun kemudian. Jadilah aku sebatang kara, mandiri, tangguh, dan tampan rupawan ini."
"Yang terakhir itu opini, bukan fakta," potongku cepat untuk mencairkan suasana.
Dhyo tertawa lepas. "Fakta yang tertunda. Intinya, Candy, aku balik ke sini bukan cuma buat program pemerintah. Aku pulang. Aku mau lihat tanah yang nelan Ayah sama Ibu. Aku mau bangun desa ini pakai caraku sendiri. Pakai coding, pakai ilmu yang aku dapat di kota."
Saat itu, aku melihat sisi lain Randhy Orion. Dia bukan sekadar cowok humoris yang hobi mendaki gunung. Dia adalah akar yang merindukan tanahnya. Dia kuat. Jauh lebih kuat dari kelihatannya.
Siangnya, aku mulai bekerja. Tugasku memetakan kondisi fisik desa. Aku berjalan keliling kampung membawa meteran dan buku sketsa. Mengukur jalan setapak, mencatat drainase yang mampet, dan menggambar denah kasar perumahan warga.
Dan entah kenapa, Dhyo selalu ada di sekitarku.
Dia tidak membuntuti secara langsung. Tapi, saat aku sedang kehausan di ujung desa, tiba-tiba dia muncul dari balik pohon mangga, menyodorkan kelapa muda yang baru saja dia panjat.
"Minum. Arsitek nggak boleh dehidrasi. Nanti garis gambarnya miring," katanya, lalu pergi lagi sambil bersiul.
Lalu, saat aku kesulitan mengukur lebar jalan karena banyak semak berduri, dia tiba-tiba ada di sana dengan parang, membabat semak-semak itu dengan gerakan tangkas.
"Sudah bersih, Nona Arsitek. Silakan diukur. Jangan lupa hitung juga luas hatiku yang kosong," celetuknya, lalu kabur sebelum aku sempat melemparnya dengan meteran.
Sore harinya, ada keributan di Balai Desa.
Pak Kades panik. "Aduh, ini bagaimana! Starlink mati! Lampu indikatornya merah terus! Padahal mau kirim laporan Dana Desa ke Kabupaten!"
Warga berkumpul. Mereka bingung. Bagi desa terisolasi ini, internet adalah satu-satunya jendela. Kalau mati, mereka buta lagi.
Aku melihat Dhyo datang. Dia baru saja dari kebun, masih pakai kaos singlet dan celana pendek kotor tanah.
"Minggir, minggir. Kasih jalan buat ahli IT internasional," katanya membelah kerumunan.
Dia melihat perangkat canggih itu. Memanjat tiang bambu penyangga piringan satelit dengan gesit—seperti monyet, tapi monyet yang ganteng. Dia memeriksa kabel, memeriksa konektor. Lalu dia turun, membuka laptopnya, menyambungkan kabel LAN.
Jari-jarinya menari cepat. Wajahnya serius. Alisnya bertaut. Tidak ada senyum main-main. Di layar hitam itu muncul tulisan-tulisan putih yang bergulir cepat. Aku tidak mengerti. Bagi orang awam sepertiku, itu terlihat seperti dia sedang meretas Pentagon.
"Kabelnya digigit tikus sedikit di atas, jadi short. Terus IP-nya konflik sama router lokal," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Dia mengambil selotip listrik dari saku celananya (kenapa dia bawa selotip listrik di saku?), memanjat lagi, melilit kabel yang terkelupas. Turun lagi. Mengetik lagi.
"Oke... rebooting system... 3... 2... 1..."
Tiba-tiba lampu indikator di router berubah hijau.
"Nyala!" teriak anak-anak kecil.
"Horeee!" Warga bersorak. Pak Kades menyalami Dhyo sampai tangannya terguncang keras.
"Terima kasih, Pak Guru! Hebat e! Tangan dingin!
Dhyo cuma tertawa malu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, biasa saja Pak Kades. Cuma kabelnya lagi ngambek, minta diperhatiin."
Aku berdiri di pinggir kerumunan, menatapnya.
Dia berdiri di sana, keringat bercucuran di pelipis, baju kotor, laptop di tangan kiri, parang di pinggang kanan. Perpaduan yang aneh. Kontradiksi yang menarik.
Lulusan Sistem Informasi yang mengerti bahasa mesin, tapi juga mengerti cara memanjat pohon dan bertahan hidup di alam liar. Anak kota yang punya luka masa lalu di desa ini, tapi memilih kembali untuk memperbaikinya, bukan membencinya.
Dhyo menoleh ke arahku. Dia mengedipkan sebelah matanya.
"Gimana? Keren nggak?" tanyanya tanpa suara, hanya gerak bibir.
Aku memutar bola mata, tapi tidak bisa menahan senyum. Aku mengacungkan jempol kecil, sembunyi-sembunyi di dekat pinggang.
Malam itu, setelah makan malam ikan bakar (hasil tangkapan Bapak tadi pagi yang benar-benar diantar ke rumah Pak Kades untuk Dhyo), kami duduk berdua di teras.
Langit cerah. Bintang bertaburan seperti tumpahan gula pasir di atas kain hitam.
"Candy," kata Dhyo sambil memetik gitar tua milik Pak Kades. Suaranya fals sedikit, tapi Dhyo memainkannya dengan percaya diri.
"Apa?"
"Kamu tahu rasi bintang Orion?"
"Tahu. Itu nama kamu, kan?"
"Iya. Itu rasi bintang Pemburu. The Hunter. Gagah kan?"
"Terus?"
"Di langit, Orion itu selalu mengejar Pleiades, tujuh bidadari. Tapi nggak pernah dapet."
"Kasihan dong."
"Nggak apa-apa. Yang penting usahanya. Lagian kalau dapet, nanti ceritanya selesai. Nggak seru." Dia menatapku lekat. "Sama kayak aku."
"Maksudnya?" Jantungku berdegup sedikit lebih kencang.
"Aku suka mengejar sesuatu yang sulit. Mendaki puncak gunung yang tinggi, ngoding program yang bug-nya banyak, atau..." Dia menggantung kalimatnya.
"Atau apa?" desakku penasaran.
Dhyo tersenyum misterius. Jemarinya memetik senar gitar, memainkan intro lagu I Will dari The Beatles.
"Atau membuat arsitek pendiam jadi banyak tanya kayak kamu," jawabnya enteng.
"Iih! Dhyo!" Aku memukul lengannya pelan.
Dia tertawa renyah. "Sakit, Nona. Tangan ini aset negara. Kalau patah, siapa yang benerin internet desa?"
Malam itu, di bawah langit Timur yang penuh bintang, aku sadar satu hal. Aku mulai nyaman dengan segala keanehan Dhyo. Dengan segala kejutan-kejutan kecilnya. Dengan cara dia menyembunyikan kesedihannya di balik lelucon.
Dan mungkin, hanya mungkin, Dhyo benar. Dia bukan sekadar pemburu yang mengejar tanpa hasil. Dia adalah pemburu yang tahu persis apa yang dia incar, dan dia sabar menunggunya datang.
Entah itu sinyal internet, ikan bubara, atau mungkin... hati seseorang.
***
Catatan Penulis
Nah, kan. Dhyo itu penuh kejutan. Kayak kinder joy, tapi isinya bukan mainan, melainkan masa lalu dan kabel LAN.
Bab ini Dhyo mulai terbuka. Sedikit demi sedikit. Kayak download file pake sinyal EDGE, pelan.
Candy juga mulai goyah. Tembok arsitekturnya mulai retak diserang humor receh Dhyo.
Hati-hati, cinta di daerah terpencil itu bahaya. Nggak ada tempat lari. Ke laut tenggelam, ke hutan tersesat. Pilihannya cuma satu: jatuh hati.
0 Komentar