Bab 3: Algoritma Hujan dan Masjid Tua
Hari ketiga. Aku mulai terbiasa dengan suara ombak sebagai backsound hidupku, menggantikan suara klakson Jakarta. Tugasku hari ini berat: survei sumber air bersih di bukit belakang desa. Katanya, debit airnya mulai kecil kalau musim kemarau.
"Kamu butuh bodyguard," kata Dhyo tiba-tiba saat aku sedang mengikat tali sepatu kets-ku di teras.
Dia muncul dengan tampilan khasnya: kaos oblong abu-abu, celana kargo pendek selutut, dan tas carrier kecil di punggung. Di kepalanya terikat buff (bandana pendaki) motif batik.
"Aku bisa sendiri, Dhyo. Cuma ke bukit itu," tunjukku.
"Bukit itu namanya Bukit Harapan Palsu," sahut Dhyo kalem. "Kelihatannya dekat, tapi nanjaknya bikin putus asa. Banyak pacet. Kamu tahu pacet? Hewan penghisap darah yang lebih setia dari pacar. Sekali nempel susah lepas."
Aku bergidik. "Oke. Kamu ikut."
"Nah, gitu dong. Jangan sombong. Arsitek juga butuh navigator."
Perjalanan dimulai. Matahari belum terlalu terik. Kami melewati jalan setapak yang membelah perkampungan. Di ujung desa, sebelum masuk hutan, kami melewati sebuah bangunan kayu ulin yang sudah tua sekali, warnanya hitam legam dimakan cuaca, tapi berdiri kokoh dan berwibawa.
Itu Masjid Tua desa ini.
Dhyo berhenti mendadak. Langkah kakinya yang tadi ringan seperti kijang, kini tertahan.
"Tunggu sebentar ya, Candy," katanya. Suaranya merendah.
Dia berjalan masuk ke halaman masjid yang berpasir putih bersih. Di samping masjid, ada dua gundukan tanah dengan nisan kayu sederhana yang tertancap miring. Tidak ada marmer, tidak ada keramik mewah. Hanya batu kali yang disusun rapi dan taburan bunga kamboja kering.
Aku mengamatinya dari pagar kayu.
Dhyo jongkok di sana. Dia mencabut rumput liar yang tumbuh di sela-sela bebatuan. Gerakannya pelan, hati-hati sekali, seolah dia sedang merakit bom yang sensitif—atau mungkin sedang membelai wajah seseorang.
Dia menengadahkan tangan, mulutnya komat-kamit berdoa. Khusyuk. Angin laut menerbangkan rambut gondrongnya.
Selesai berdoa, dia tidak langsung berdiri. Dia mengusap nisan kayu itu dengan telapak tangannya yang kasar.
"Assalamu'alaikum, Pak, Bu," bisiknya, tapi aku masih bisa dengar karena suasana hening sekali. "Randhy datang. Bawa teman. Arsitek. Cantik, tapi bawel."
Aku tersenyum kecil. Dasar Dhyo. Di kuburan pun masih sempat meledek.
Dia bangkit, menepuk lututnya, lalu menghampiriku. Matanya agak merah, tapi bibirnya tersenyum lebar.
"Itu orang tuamu?" tanyaku pelan.
"Iya. Rumah masa kecilku dulu di belakang masjid ini. Sekarang sudah jadi kebun pisang," jawabnya santai sambil berjalan lagi. "Masjid ini saksi bisu waktu aku belajar ngaji, waktu aku dihukum karena mencuri mangga tetangga, sampai waktu aku nangis karena Bapak Ibu pergi."
"Kamu rindu mereka?"
"Selalu. Rindu itu seperti bug di kodingan, Candy. Nggak kelihatan, tapi bikin sistem error kalau nggak ditangani. Makanya aku sering ke sini, buat debugging perasaan."
Aku tertegun. Metaforanya aneh, tapi entah kenapa masuk akal.
Kami masuk ke hutan. Jalurnya mulai menanjak. Dhyo benar, ini bukan bukit biasa. Tanah liatnya licin sisa hujan semalam. Akar-akar pohon menyembul seperti ular.
"Hati-hati, injak akarnya, jangan tanahnya," instruksi Dhyo. Dia berjalan di depan, memotong ranting yang menghalangi jalan dengan parang kecilnya.
Nafasku mulai senin-kamis. "Dhyo... berhenti dulu."
Dhyo berbalik. Dia melihatku yang sudah banjir keringat. Dia tidak mengejek kali ini. Dia membuka tasnya, mengeluarkan botol minum stainless.
"Minum. Jangan langsung banyak. Dikit-dikit."
Aku menurut. Airnya segar.
"Masih jauh?" tanyaku putus asa.
"Sedikit lagi. Kamu kuat kok. Arsitek kan biasa begadang, masa nanjak segini aja nyerah. Anggap aja ini lagi ngejar deadline," semangatinya.
Tiba-tiba, langit berubah gelap. Awan hitam bergulung cepat di atas kepala. Angin bertiup kencang, menggoyangkan daun-daun kelapa di kejauhan.
"Waduh. Server langit down," gumam Dhyo melihat ke atas. "Mau hujan. Ayo, Candy. Kita harus sampai ke pondok di atas sebelum basah kuyup."
Dia mengulurkan tangan. "Pegang tanganku. Kita speed up."
Aku ragu sejenak, tapi gemuruh petir menyambar. Aku menyambut tangannya.
Tangannya kuat dan mantap. Dia menarikku naik, membantuku melompati batang pohon tumbang. Kami berlari kecil menembus hutan.
Saat rintik hujan mulai turun deras seperti peluru air, kami sampai di sebuah pondok kayu kecil di dekat mata air. Atapnya dari daun sagu (rumbia), tapi cukup rapat.
Kami masuk ke dalam pondok itu tepat saat hujan mengguyur deras. Byuurrr!
Nafas kami memburu. Bajuku basah sebagian. Rambut Dhyo lepek, air menetes dari ujung hidungnya
"Selamat," kata Dhyo sambil menyeka wajahnya. "Kamu baru saja lulus ujian fisik tahap satu."
Aku duduk di lantai bambu, meluruskan kaki. "Gila. Cuaca di sini nggak bisa ditebak."
"Sama kayak perempuan," celetuk Dhyo, lalu dia sibuk membongkar tasnya lagi. Dia mengeluarkan kompor portable kecil (lagi-lagi!) dan nesting.
"Kamu bawa kompor ke mana-mana?"
"Sedia payung sebelum hujan, sedia kopi sebelum pusing," jawabnya. "Di gunung atau di hutan, kopi itu bensin. Tanpa kopi, aku cuma seonggok daging yang bisa ngoding."
Sambil menunggu air mendidih, kami duduk bersisian menghadap hujan. Hutan di depan kami berubah menjadi lukisan kabur berwarna hijau dan abu-abu. Suara hujan yang menimpa atap rumbia terdengar menenangkan
"Dhyo," kataku memecah keheningan.
"Ya, Nona Arsitek?"
"Kenapa kamu kuliah IT kalau jiwamu di hutan begini?"
Dhyo menuang kopi sachet ke gelas. Aromanya langsung memenuhi pondok sempit itu.
"Karena aku sadar, Candy. Hutan ini tempatku pulang, tapi dunia luar sana bergerak maju pakai teknologi. Kalau aku cuma modal otot dan parang, desa ini bakal gini-gini aja. Orang tuaku meninggal karena keterbatasan akses. Aku nggak mau itu kejadian lagi."
Dia menyeruput kopinya sedikit, lalu menawarkannya padaku.
"Aku belajar Sistem Informasi biar bisa bawa dunia ke sini. Starlink di balai desa itu? Itu langkah awal. Nanti aku mau bikin aplikasi telemedisin sederhana, biar warga bisa konsultasi sama dokter di kota kalau sakit. Biar nggak ada lagi anak kecil yang jadi yatim piatu cuma gara-gara demam tinggi."
Aku menatapnya lekat. Di balik sikapnya yang slengean, di balik lelucon-lelucon recehnya, Dhyo punya visi yang besar. Dia bukan cuma petualang. Dia pejuang.
"Kamu... keren," kataku jujur.
Dhyo tersedak kopinya. "Uhuk! Apa? Ulangi? Tolong direkam, buat bukti otentik."
"Nggak ada siaran ulang," kataku sambil tertawa.
Dhyo menatapku. Jarak kami dekat sekali di pondok sempit itu. Aku bisa melihat bintik-bintik cokelat di bola matanya. Dia tidak tertawa kali ini.
"Kamu juga keren, Candy," katanya pelan. "Cewek kota, arsitek, tapi mau blusukan ke sini, mau dengerin ocehan cowok aneh kayak aku, mau hujan-hujanan."
Dia mengangkat tangannya, ragu-ragu sejenak, lalu dengan lembut menyingkirkan anak rambut yang basah menempel di pipiku.
Jantungku berhenti berdetak sedetik. Rasanya seperti ada short circuit di dalam dadaku.
"Mungkin..." Dhyo berbisik, suaranya hampir kalah oleh suara hujan. "Mungkin Tuhan kirim kamu ke sini bukan cuma buat bangun desa. Tapi buat bangunin hati seseorang yang sudah lama tidur."
Hening. Hanya suara hujan dan detak jantungku sendiri yang terdengar ribut.
Tiba-tiba Dhyo menarik tangannya kembali, lalu nyengir lebar—merusak suasana romantis itu dengan sengaja.
"Maksudku hati Pak Kades. Dia kan jomblo juga. Haha!"
Aku memukul bahunya keras. "Dhyo! Kamu nyebelin banget sih!"
Dia tertawa terbahak-bahak, menghindari pukulanku. "Becanda, Candy. Becanda. Tapi serius, hujannya awet ya. Kayak cicilan rumah."
Aku mendengus kesal, tapi dalam hati aku tersenyum. Dhyo adalah teka-teki. Dia memberimu sinyal kuat, lalu tiba-tiba memutusnya, membuatmu penasaran setengah mati. Dia seperti sinyal internet di desa ini: kadang 4G, kadang No Service. Tapi justru saat sinyal itu hilang, kamu jadi terus mencarinya.
Hujan mulai reda menjadi gerimis.
"Ayo turun," ajak Dhyo. "Sebelum gelap. Nanti ada babi hutan lewat, kamu dikira temannya."
"Enak aja!"
Kami menuruni bukit dengan hati-hati. Dhyo berjalan duluan, tapi kali ini dia terus memegang tanganku di turunan yang licin. Genggamannya erat. Tidak dilepas sampai kami tiba di jalan datar dekat masjid tua itu lagi.
"Dah, sampai sini aman," katanya melepaskan tanganku. Ada rasa kehilangan yang aneh saat kehangatan tangannya pergi.
"Makasih, Dhyo."
"Sama-sama. Tagihannya nanti aku kirim lewat mimpi," dia mengedipkan mata, lalu berbelok menuju rumah kecil tempat dia tinggal menumpang sementara, meninggalkan aku yang berdiri terpaku di depan masjid tua.
Sore itu, aku menyadari satu hal: Aku tidak sedang mensurvei sumber air. Mingkin Aku sedang mensurvei perasaan yang mulai tumbuh liar seperti ilalang di musim hujan.
***
Catatan Penulis:
Begitulah Dhyo. Dia bisa bikin kamu terbang ke langit ketujuh, terus diajak terjun bebas tanpa parasut, tapi pas mendarat ternyata ditangkap sama dia juga.
Masjid tua itu jadi saksi. Bahwa Dhyo yang kelihatannya modern dan penuh kode biner, hatinya tetap tertambat pada akar rumput dan doa-doa lama.
Candy? Candy mulai sadar, kalau Dhyo itu bukan sekadar objek observasi, tapi subjek yang bikin hati deg-degan.
0 Komentar