Bab 4:
Tentang Gelap yang Menyalakan Perasaan



Hidup di desa tanpa listrik 24 jam itu mengajarkan kita satu hal: menghargai cahaya. Di Jakarta, kita marah kalau mati lampu lima menit. Di sini, kita bersyukur kalau lampu menyala lima jam.

Malam itu, Desa sedang punya hajat. Pak Kades mengadakan syukuran kecil-kecilan karena panen cengkeh warga berhasil dijual dengan harga bagus ke pengepul yang datang naik kapal perintis. Ibu-ibu sibuk di dapur umum, memasak nasi kuning dan ikan kuah kuning. Harum rempah pala dan cengkeh menguar ke seluruh penjuru kampung, bercampur dengan aroma laut.

Aku sedang duduk di teras Balai Desa, membantu Mama-mama(ibu-ibu) mengupas bawang merah yang pedasnya sampai ke mata—atau mungkin aku menangis karena ingat sesuatu? Entahlah.

Tiba-tiba...

Pret... preet... groook...

Suara genset desa yang biasanya menderu gagah itu batuk-batuk. Seperti kakek tua yang kebanyakan merokok kretek. Lampu bohlam kuning di atas kepalaku berkedip-kedip panik, lalu... pet!

Mati total.

Gelap gulita langsung menyergap. Suara ibu-ibu di dapur berubah jadi koor kepanikan.

"Aduh! Senter! Mana senter?!"

"Ma, tolong itu ikan jangan sampai gosong!"

"Gelap e! Kayak nasib!"

Di tengah kekacauan itu, ada satu cahaya senter yang menyorot tenang, membelah kegelapan dari arah rumah Dhyo. Cahaya itu bergerak stabil mendekati kami.

"Tenang, Ibu-ibu," suara bariton itu terdengar. "Jangan panik. Ikan kuah kuning aman. Yang bahaya itu kalau hati yang gosong."

Itu Dhyo. Tentu saja.

Dia datang dengan kaos oblong putih dan celana pendek bola. Di tangannya ada kotak peralatan (toolbox) besi berwarna merah yang kelihatan berat.

"Kenapa, Dhyo?" tanya Pak Kades yang muncul dengan sarung yang hampir melorot.

"Kayaknya injector-nya masuk angin, Pak. Atau businya ngambek minta ganti," jawab Dhyo santai sambil berjalan menuju rumah genset di belakang balai desa.

Aku, yang merasa tidak berguna cuma duduk memegang bawang dalam gelap, memutuskan untuk menyusulnya.

"Boleh aku bantu?" tanyaku saat sampai di pintu rumah genset.

Dhyo menoleh. Senter kepalanya menyorot wajahku sekilas, membuatku menyipitkan mata.

"Kamu? Bantu apa? Doa?" tanyanya.

"Enak aja. Aku arsitek, Dhyo. Aku ngerti mesin dikit-dikit. Minimal megangin senter biar kamu bisa kerja dua tangan."

Dhyo tersenyum miring. "Oke, Nona Arsitek. Masuk. Tapi awas, di sini bau solar. Bukan bau parfum mahalmu."

"Bawel."

Aku masuk. Ruangan itu sempit dan bau oli menyengat. Mesin diesel tua berwarna hijau itu duduk diam di tengah ruangan, panasnya masih terasa.

Dhyo mulai bekerja. Dia membuka kap mesin, mengecek selang-selang, memutar baut dengan kunci pas. Gerakannya cekatan. Lengan berototnya yang berkeringat berkilauan terkena pantulan cahaya senter yang kupegang.

Aku memperhatikannya diam-diam.

Laki-laki ini... dia bisa coding bahasa pemrograman yang rumit, bisa mendaki gunung tinggi, bisa mengajar anak SD, dan sekarang dia sedang bergelut dengan mesin diesel berlumur oli.

"Fokus senternya ke sini, Candy. Jangan ngelamunin aku. Nanti naksir, repot," tegurnya tanpa menoleh.

"Dih, GR (Gede Rasa). Siapa yang ngelamunin kamu? Aku lagi liat laba-laba di pojokan itu."

"Awas, kalo kena gigit, kamu nggak jadi superhero, meriang."

Kami bekerja dalam diam beberapa saat. Hanya bunyi denting logam beradu logam.

"Kunci 12," pinta Dhyo sambil mengulurkan tangan.

Aku mengambil kunci pas ukuran 12 dari kotaknya dan meletakkannya di telapak tangannya.

"Obeng minus."

Aku memberikannya lagi.

"Tisu."

Aku memberikannya tisu.

"Hati kamu."

Aku terhenti. "Hah?"

Dhyo menoleh, wajahnya cemong kena oli hitam di pipi kiri. Dia nyengir kuda. "Hati kamu. Tolong pegangin sebentar, takut jatoh ke mesin."

Aku mendengus, menahan tawa. "Garing, Dhyo. Sumpah."

"Biarin. Yang penting kamu ketawa. Tuh, kalau ketawa manis. Kayak gula aren."

Dia kembali fokus ke mesin. "Ini saringan solarnya kotor banget. Pantesan choking. Kayak orang kebanyakan makan janji manis, jadi tersedak."

Dia membersihkan saringan itu dengan telaten. Lalu memasangnya kembali. Memompa solarnya manual dengan tangan.

"Oke. Mundur dikit, Candy. Aku mau start engkol."

Aku mundur ke pojok. Dhyo memasukkan tuas engkol, mengambil napas panjang, lalu memutar tuas itu dengan tenaga penuh. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Groook... groook... BREMMMMM!

Mesin itu menderu hidup kembali. Suaranya bising memekakkan telinga, tapi bagi warga desa, itu suara surga. Lampu di rumah genset menyala terang benderang.

Dhyo berdiri tegak, napasnya memburu, keringat bercucuran di keningnya yang tertutup rambut gondrong. Dia tersenyum puas ke arahku sambil mengacungkan jempol yang hitam kena oli.

Kami keluar dari rumah genset, disambut sorak sorai warga.

"Menyala Abangku!" teriak anak-anak kecil meniru gaya tren TikTok yang entah mereka tahu dari mana (mungkin dari Dhyo juga).

Dhyo tertawa, lalu mengusap wajahnya dengan punggung tangan, membuat noda oli di pipinya makin melebar. Dia terlihat berantakan, tapi entah kenapa... tampan.

"Makasih asistennya," kata Dhyo padaku. "Kamu lulus jadi mekanik magang."

"Bayarannya apa?" tanyaku menantang.

Dhyo berpikir sejenak. "Hmm. Makan malam ikan kuah kuning gratis? Sama... bonus lihat planetarium alam semesta."

"Planetarium?"

"Ayo ikut aku ke pantai. Mumpung terang bulan belum muncul, bintangnya lagi pamer diri."

Kami meninggalkan keramaian pesta syukuran. Berjalan menjauh menuju pantai yang sepi. Suara genset sayup-sayup terdengar di kejauhan, kalah oleh debur ombak.

Di pantai, Dhyo menggelar sarung lusuh miliknya di atas pasir.

"Duduk sini. Jangan takut kotor. Pasir itu suci, yang kotor itu pikiran koruptor," katanya.

Aku duduk di sebelahnya. Kami berbaring menatap langit.

Ya Tuhan. Indah sekali.

Langit Jakarta tidak pernah begini. Di sini, Bimasakti (Milky Way) terlihat jelas seperti kabut putih yang memanjang membelah angkasa. Ribuan, jutaan titik cahaya berkelap-kelip. Ada yang terang, ada yang redup, ada yang kemerahan, ada yang biru.

"Lihat itu," Dhyo menunjuk dengan telunjuknya lurus ke atas. "Itu tiga bintang berjejer. Itu sabuk Orion. Orion's Belt."

"Namamu," gumamku.

"Iya. Alnitak, Alnilam, Mintaka. Tiga raja. Di bawahnya ada pedang Orion. Dan yang merah terang di bahu kirinya itu Betelgeuse. Bintang raksasa yang sudah tua, siap meledak kapan saja."

"Meledak?"

"Iya. Jadi Supernova. Kalau dia meledak, cahayanya bakal seterang bulan purnama selama berbulan-bulan. Keren kan? Mati dengan cara yang spektakuler."

"Seram ah."

"Nggak seram. Itu siklus alam. Bintang mati, debunya jadi bahan buat bintang baru. Kayak perasaan, Candy. Kadang harus hancur dulu biar bisa tumbuh yang baru dan lebih kuat."

Aku menoleh ke samping, menatap profil wajah Dhyo yang diterangi cahaya bintang. Hidungnya mancung, rahangnya tegas.

"Dhyo," panggilku pelan.

"Hm?" Dia masih menatap langit.

"Kamu pernah hancur?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Mungkin karena suasana malam yang terlalu intim.

Dhyo diam lama. Dia menarik napas panjang, aroma laut dan sisa oli di bajunya bercampur.

"Pernah," jawabnya singkat. "Waktu di kota. Aku pernah punya rencana menikah. Sama teman kuliah. Anak orang kaya. Cantik, pintar, perfect lah."

"Terus?"

"Terus dia main ke sini sekali. Lihat rumah kayuku, lihat kuburan Bapak Ibu, lihat WC desa yang waktu itu masih belum ada airnya. Pas pulang ke kota, dia bilang: 'Dhyo, aku sayang kamu, tapi aku nggak bisa hidup sama masa lalumu dan mimpimu di desa itu'."

Aku terdiam. Dadaku terasa nyeri sedikit.

"Sakit?" tanyaku.

"Awalnya. Rasanya kayak kodingan yang udah ditulis ribuan baris, terus kehapus dan lupa di-save. Kosong. Tapi lama-lama aku sadar, dia benar. Dia butuh AC, aku butuh angin laut. Dia butuh mall, aku butuh hutan. Kami cuma dua variabel yang nggak kompatibel dalam satu fungsi."

Dhyo menoleh menatapku. Jarak wajah kami dekat. Mata cokelatnya menatapku tajam tapi lembut.

"Makanya aku hati-hati sekarang, Candy. Apalagi sama cewek kota."

Deg.

Kalimat itu seperti peringatan. Atau mungkin tantangan?

"Aku... aku beda, Dhyo," kataku membela diri, entah kenapa. "Aku emang anak kota. Tapi aku nggak butuh AC kalau anginnya sesejuk ini. Dan aku arsitek, aku bisa bangun WC yang bagus."

Dhyo tertawa kecil. Tawa yang tulus. Dia mengulurkan tangannya, kali ini bukan untuk membetulkan rambut, tapi untuk membersihkan noda pasir di pipiku—atau mungkin cuma alasan untuk menyentuh wajahku. Jempolnya kasar tapi hangat mengusap pipiku.

"Aku tahu kamu beda," bisiknya. "Kamu Candida Revoluta. Bunga yang tumbuh di tanah revolusi. Kamu kuat. Kamu mau megangin senter di ruang genset yang bau. Mantan aku nggak akan mau masuk ke sana."

Tangannya masih di pipiku. Waktu seolah berhenti. Hanya ada suara ombak dan detak jantungku yang berlomba.

"Candy," bisiknya lagi, makin dekat.

"Ya?" suaraku tercekat.

"Ada oli di pipi kamu. Tadi nempel pas di genset. Sekarang makin belepotan gara-gara aku usap."

Dia menarik tangannya, memperlihatkan jempolnya yang hitam. Lalu dia tertawa terbahak-bahak sampai berguling di pasir.

"Dhyooooo!!!" Aku berteriak kesal, mendorong tubuhnya. "Kamu ngerusak suasana banget sih! Aku kira mau ngomong apa!"

Dhyo masih tertawa sambil memegangi perutnya. "Hahaha! Maaf, maaf. Habisnya kamu serius banget kayak mau sidang skripsi. Mukamu lucu kalau lagi tegang."

Aku cemberut, pura-pura marah, tapi tak urung ikut tersenyum. Sialan. Laki-laki ini benar-benar tahu cara mempermainkan emosi.

"Udah ah, ayo balik," kataku berdiri sambil menepuk-nepuk pasir di celana. "Makan ikan kuah kuning. Perutku laper, hatiku capek ngadepin kamu."

Dhyo bangkit, masih sisa-sisa tertawa. Dia berjalan di sampingku.

"Jangan marah dong, Nona Arsitek. Nanti aku buatin software khusus buat mendeteksi kebohongan laki-laki. Biar kamu nggak ketipu."

"Nggak perlu. Cukup satu fitur aja: fitur mute buat mulut kamu."

Kami berjalan kembali ke balai desa di bawah naungan Bimasakti. Malam itu, meski tangan dan wajah kami kotor oli, meski kami cuma makan nasi kuning beralas daun pisang di tengah desa terpencil yang sinyalnya susah minta ampun, aku merasa... bahagia.

Bahagia yang sederhana.

Dhyo mungkin benar soal bintang Betelgeuse yang mau meledak. Karena rasanya, ada sesuatu di dadaku yang juga siap meledak seperti supernova. Perasaan hangat yang berbahaya, tapi indah.

Di tengah keramaian warga yang sedang makan, Dhyo menatapku dari seberang meja. Dia mengangkat gelas kopinya tinggi-tinggi ke arahku, seolah bersulang.

Cheers, Candy. Selamat datang di duniaku yang aneh.

Dan malam itu, aku membalas angkat gelas air putihku. Tersenyum.

Mungkin, hanya mungkin, aku mulai jatuh cinta pada "anak hilang" bernama Randhy Orion ini. Pada kodingannya yang rumit, dan pada cara dia mencintai tanah kelahirannya.

Tapi ssst... jangan bilang dia dulu. Nanti dia besar kepala. Biar saja dia penasaran, seperti dia penasaran mencari sinyal satelit di tengah badai.

***


Catatan Penulis :

Malam itu, genset desa bukan cuma menyalakan lampu bohlam, tapi juga menyalakan harapan.

Dhyo itu memang kurang ajar. Dia bisa bikin romantis, terus dibelokin jadi komedi putar. Tapi justru itu yang bikin Candy nggak bisa berpaling. Kalau cowok terlalu romantis terus, nanti dikira jualan bunga.

Cinta itu kadang tumbuh bukan di restoran mewah, tapi di ruang mesin bau solar. Di mana tangan kotor saling membantu, dan mata saling bicara dalam diam.