Bab 5: Ombak, Mabuk Laut, dan Punggung yang Tabah
Laut Banda itu seperti perempuan yang sedang PMS (Pre-Menstrual Syndrome). Pagi dia tenang, biru, manis, bisa diajak selfie. Siang sedikit, dia bisa berubah jadi monster yang mau menelan apa saja yang lewat di atasnya.
Hari itu, aku harus menyeberang ke pulau kecil tak berpenghuni di depan desa. Namanya Pulau Karang. Tujuannya: survei potensi wisata bahari. Pak Kades bilang, "Di sana pasirnya lebih putih dari bedak bayi."
Aku pergi dengan perahu ketinting kecil—perahu kayu panjang yang sempit, dengan mesin tempel yang suaranya seperti kaleng rombeng dipukul-pukul. Juru mudinya seorang bapak tua bernama Bapa Ade. Dan tentu saja, Dhyo ikut. Katanya dia mau cari spot mancing, padahal dia tidak bawa pancingan. Cuma bawa laptop di dalam drybag (tas anti air).
"Buat apa bawa laptop ke pulau kosong?" tanyaku heran saat kami naik ke perahu.
"Siapa tahu di sana ada Wi-Fi dari Atlantis," jawabnya asal sambil memakai kacamata hitam yang gagangnya sudah dilakban. "Lagian, inspirasi koding itu bisa datang dari mana aja. Termasuk dari kepiting."
Perjalanan berangkat lancar. Laut tenang seperti kaca. Langit biru bersih. Aku sibuk memotret gradasi warna air laut—dari toska, biru muda, sampai biru tua pekat. Indah. Aku merasa seperti Moana.
Tapi pulangnya... beda cerita.
Sekitar jam tiga sore, angin barat bertiup kencang. Langit mendadak kelabu. Awan hitam bergulung-gulung rendah, seolah mau menyentuh air.
"Nona! Pegang kuat! Ombak su naik!" teriak Bapa Ade dari belakang, suaranya kalah oleh deru angin.
Perahu kecil kami mulai terombang-ambing. Ombak setinggi dua meter datang beruntun. Byaar! Air masuk ke perahu.
Aku panik. Jantungku rasanya mau copot. Aku arsitek, duniaku adalah beton dan garis lurus yang stabil. Ini? Ini kekacauan murni. Aku mencengkeram pinggiran perahu kayu itu sampai kuku jariku memutih.
"Dhyo!" teriakku.
Dhyo duduk di depanku. Dia tenang sekali. Dia malah sedang menimba air yang masuk ke perahu pakai potongan jerigen bekas, seolah dia sedang menyiram tanaman.
"Santai, Candy! Ini cuma ombak. Air laut lagi senam aerobik!" teriaknya santai.
"Nggak lucu! Aku takut!"
Satu ombak besar menghantam lambung kanan. Perahu miring drastis. Aku menjerit, menutup mata. Rasanya kami akan terbalik. Perutku mual hebat. Asam lambung naik ke kerongkongan.
Tiba-tiba, aku merasakan sebuah tangan besar mencengkeram lengan atasku. Kuat sekali.
"Pindah ke tengah! Jangan di pinggir!" Dhyo menarikku kasar. Aku jatuh terduduk di dasar perahu yang basah.
Dia melepaskan jaket pelampungnya (yang sebenarnya cuma gabus oranye dekil), lalu memakaikannya padaku dengan paksa.
"Pakai ini! Cepetan!"
"Terus kamu gimana?" tanyaku dengan suara bergetar, air mata sudah bercampur air laut di pipiku.
"Aku anak laut, Candy. Aku punya insang di leher, kamu nggak lihat?" bentaknya, tapi matanya khawatir. "Udah, diem! Nunduk! Pegang lutut!"
Hujan turun deras. Badai. Langit gelap gulita padahal baru sore. Kami terombang-ambing di tengah lautan luas tanpa sinyal, tanpa radio, cuma modal doa dan keahlian Bapa Ade mengendalikan kemudi.
Aku menangis. Benar-benar menangis. "Aku mau pulang... Aku nggak mau mati di sini... Skripsiku belum dipublikasi..."
Dhyo pindah duduk di sebelahku. Dia merangkul bahuku erat, menahan tubuhku agar tidak terlempar saat perahu menghantam ombak. Tubuhnya basah kuyup, tapi hangat.
"Hei. Lihat aku," katanya. Suaranya tidak lagi bercanda. Tegas.
Aku mendongak, menatap wajahnya yang basah.
"Kamu nggak akan mati. Ada aku. Ada Bapa Ade. Perahu ini kayu ulin, kuat. Kita cuma lagi diajak main rollercoaster gratis. Anggap aja Dufan."
"Aku benci Dufan!" isakku.
Dhyo tertawa kecil. Tawa yang aneh di tengah badai, tapi menular. "Oke, kalau gitu anggap aja ini simulasi kiamat kecil-kecilan. Dengerin aku, Candy. Fokus sama suara napasmu. Tarik... buang... Jangan lawan ombaknya. Ikutin gerakannya."
Dia memegang kepalaku, menekannya ke dadanya. Aku bisa mendengar detak jantungnya. Tenang. Stabil. Dug-dug. Dug-dug. Berbeda jauh dengan jantungku yang seperti drum band metal.
Selama satu jam yang menyiksa itu, Dhyo menjadi jangkarku. Dia melindungiku dari cipratan air asin, membisikkan kata-kata penenang yang kadang ngawur ("Nanti kalau kita tenggelam, aku kenalin kamu sama Spongebob"), tapi efektif membuatku tidak histeris.
Akhirnya, perahu berhasil merapat ke pantai desa. Hujan masih deras, tapi ombak di teluk lebih tenang.
Aku turun dari perahu dengan kaki gemetar hebat. Lututku lemas seperti jeli. Begitu menginjak pasir, aku langsung jatuh terduduk. Muntah.
Isi perutku keluar semua. Pusing. Dunia berputar.
"Minggir, Bapa Ade. Biar saya yang urus," kudengar suara Dhyo.
Dia berjongkok di sampingku, memijat tengkukku pelan. "Keluarin aja. Itu laut nagih pajak makanan tadi siang."
Setelah selesai muntah, aku merasa kosong dan lemas. Aku menggigil kedinginan. Gigiku beradu. Kemeletuk.
Tanpa banyak bicara, Dhyo berbalik membelakangiku.
"Naik," perintahnya.
"Apa?"
"Naik ke punggungku. Kamu nggak bisa jalan kan? Kakimu kayak agar-agar gitu."
"Berat, Dhyo. Aku bawa ransel..."
"Ranselmu biar Bapa Ade yang bawa. Kamu naik aja. Cepetan, sebelum aku berubah pikiran terus ninggalin kamu jadi umpan nyamuk."
Dengan sisa tenaga, aku melingkarkan lenganku di lehernya. Dhyo berdiri dengan mudah, menggendongku di punggungnya seolah aku seringan karung beras.
Dia berjalan menembus hujan, menuju rumah Pak Kades.
Punggungnya lebar dan keras. Bau laut, bau keringat, dan samar-samar bau minyak kayu putih menguar dari tubuhnya. Di punggung itu, aku merasa aman. Sangat aman.
"Dhyo," bisikku di dekat telinganya.
"Hm?" napasnya agak berat karena menanjak.
"Maaf ya."
"Kenapa minta maaf? Karena muntah? Santai, nanti pasirnya juga bersih sendiri kena ombak."
"Bukan. Maaf karena aku cengeng. Aku tadi nangis kayak anak kecil."
Dhyo diam sebentar. Langkahnya melambat.
"Candy," katanya. "Nangis itu bukan berarti lemah. Itu cara system reboot biar nggak hang. Kamu manusia, wajar takut. Laut emang serem kalau lagi marah."
"Kamu nggak takut?"
"Takut lah. Gila aja nggak takut. Aku belum nikah, belum punya anak, cicilan motor di kota juga belum lunas."
Aku tertawa kecil di pundaknya. "Dasar."
"Tapi," lanjutnya lagi, nadanya berubah serius. "Kalau aku ikutan panik, siapa yang nenangin kamu? Laki-laki itu harus jadi firewall, Candy. Melindungi dari virus kepanikan."
Aku mengeratkan pelukanku di lehernya. Menyandarkan pipiku di bahunya yang basah.
"Dhyo."
"Apa lagi? Jangan bilang mau muntah di punggungku ya. Ini kaos kesayangan."
"Bukan. Makasih."
"Sama-sama. Ongkos gendongnya mahal ya. Nanti bayar pakai desain rumah masa depanku. Gratis."
"Rumah kayak gimana?"
"Rumah yang ada jendelanya menghadap laut, tapi kacanya tebal biar nggak pecah kena badai. Terus ada koneksi internet 100 Mbps. Sama ada istri yang nggak mabuk laut."
Aku tersenyum kecut. "Berarti bukan aku dong. Aku mabuk laut."
Dhyo terkekeh. Getarannya terasa di dadaku yang menempel di punggungnya. "Bisa dilatih. Tenang aja. Nanti dikasih obat anti mabuk merek 'Cinta'. Manjur."
Kami sampai di depan rumah Pak Kades. Dhyo menurunkan aku di teras dengan hati-hati, seolah aku barang pecah belah.
Dia menatapku. Rambut gondrongnya lepek menutupi sebagian matanya. Wajahnya basah. Tapi senyumnya hangat sekali, mengalahkan dinginnya badai di luar.
"Sana mandi. Pakai air hangat. Terus tidur. Jangan mikir macem-macem," katanya sambil mengacak-acak rambutku yang sudah kusut masai.
"Kamu juga mandi," kataku.
"Iya. Aku mau compile kodingan dulu sebentar. Tadi di laut dapat ide algoritma baru gara-gara lihat ombak."
"Gila kamu."
"Emang. Kalau nggak gila, nggak akan betah di sini."
Dhyo berbalik, berlari kecil menembus hujan menuju pondoknya. Meninggalkan aku yang berdiri kedinginan, tapi hatiku rasanya hangat sekali. Seperti baru saja diselimuti selimut tebal.
Malam itu, di dalam kamar, aku demam. Menggigil. Mungkin efek kaget dan kehujanan.
Samar-samar, dalam tidurnyenyakku, aku mendengar pintu kamar diketuk pelan. Ibu Kades masuk membawa mangkuk bubur panas dan segelas teh jahe.
"Nona Candy, makan dulu e. Ini Dhyo yang suruh. Dia yang parut jahenya tadi," kata Ibu Kades dengan logatnya yang lembut.
Aku bangun, meminum teh jahe itu. Pedas, hangat, melegakan.
"Dhyo mana, Bu?"
"Ada di luar. Duduk di teras. Jaga Nona. Katanya takut Nona ngigau panggil nama dia, nanti dia nggak dengar," Ibu Kades tertawa menutup mulutnya.
Aku tersenyum lemah. Air mataku menetes lagi, tapi bukan karena takut.
Laki-laki itu. Randhy Orion.
Dia bukan cuma "pahlawan kesiangan". Dia adalah pahlawan yang datang tepat waktu, meski gayanya slengean dan penuh candaan garing.
Di luar sana, di teras, aku mendengar suara petikan gitar pelan. Lagu Dewa 19, Risalah Hati.
"Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku... meski kau tak cinta..."
Suaranya serak-serak basah, mungkin karena dia juga kedinginan. Tapi bagiku, itu suara paling indah malam ini.
Aku menarik selimut. Memejamkan mata.
Ternyata, jatuh cinta itu rasanya seperti mabuk laut. Pusing, mual, takut, tapi kamu nggak mau turun dari perahunya. Karena kamu tahu, nahkodanya bisa dipercaya.
Selamat malam, Dhyo. Terima kasih untuk punggung yang tabah itu.
***
Catatan Penulis :
Tuh kan, Candy mulai demam. Demam badan, demam rindu juga.
Dhyo itu unik. Dia nggak perlu kuda putih buat jadi pangeran. Cukup punggung yang bidang dan lelucon tentang Spongebob.
Perempuan itu kalau lagi rapuh, jangan dikasih logika. Kasih bahu. Atau kalau perlu, kasih punggung buat digendong. Dhyo paham itu. Dia lulusan Sistem Informasi, tapi dia paham Sistem Hati Wanita 2.0.
0 Komentar