Bab 6: 
Pacaran Rasa Kopi Jahe dan Pondasi Puskesmas



Rasanya aneh.

Dulu, aku pikir pacaran itu harus ada pernyataan resmi. Seperti proklamasi kemerdekaan. Harus ada bunga, cokelat, atau minimal makan malam romantis di rooftop Jakarta dengan lilin-lilin yang harganya lebih mahal dari makanannya.

Tapi dengan Dhyo, semuanya berjalan tanpa protokol.

Kejadiannya dua hari setelah badai di laut itu. Kami sedang duduk di pos ronda yang sudah miring, menunggu sinyal Starlink stabil karena Dhyo mau push rank Mobile Legends (katanya buat riset latency jaringan, padahal main game).

"Candy," katanya tiba-tiba tanpa menoleh dari HP-nya.

"Ya?"

"Status hubungan kita di database Semesta kayaknya perlu di-update deh."

"Maksudnya?"

"Dari 'User Guest' jadi 'Admin'. Kamu mau nggak jadi Admin di hati aku? Hak aksesnya full. Boleh ngatur-ngatur, boleh marah-marah, tapi nggak boleh log out."

Aku bengong sebentar, lalu tertawa sampai perutku sakit. Itu adalah tembakan cinta paling tidak romantis tapi paling Dhyo sedunia.

"Boleh," jawabku di sela tawa. "Tapi kalau sistemnya lemot, aku install ulang ya?"

"Deal. Salaman dulu biar sah secara hukum rimba."

Dan begitulah. Tanpa bunga, tanpa cokelat. Cuma ada nyamuk kebun dan suara jangkrik. Resmi. Aku, Candida Revoluta, pacaran dengan Randhy Orion.


***


Sejak hari itu, dinamika kami berubah. Sedikit.

Dhyo tetaplah Dhyo yang slengean, yang suka pake kaos oblong bertuliskan "404 Love Not Found" (sekarang sudah dicoret pakai spidol jadi "Found"), dan celana pendek kargo. Tapi tatapannya beda.

Kalau dulu dia menatapku seperti meneliti spesimen langka, sekarang dia menatapku seperti... rumah.

Dan aku? Aku jadi posesif.

Bukan posesif yang mengekang, tapi posesif karena takut.

Pagi ini, proyek pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa dimulai. Ini bagian dari rekomendasi penelitianku yang disetujui pusat. Dananya turun cepat (mungkin karena Pak Kades rajin meneror orang kabupaten lewat WhatsApp).

Aku berdiri di lahan kosong berumput teki, memakai helm proyek putih dan rompi oranye. Di tanganku ada gulungan gambar denah.

"Ibu Arsitek! Semangat pagi!"

Dhyo muncul. Dia tidak pakai helm proyek, tapi pakai topi anyaman daun kelapa yang dia bikin sendiri. Di tangannya ada rantang susun.

"Kamu ngapain di sini? Bukannya ngajar?" tanyaku, berusaha menyembunyikan senyum yang mau meledak.

"Udah beres. Anak-anak lagi jam olahraga. Suruh main bola di pantai, gurunya kabur sebentar kasih asupan gizi buat pacar," katanya sambil meletakkan rantang di atas tumpukan batako. "Nih. Nasi goreng cakalang. Pedas, kayak omongan tetangga."

"Makasih."

"Sama-sama. Jangan lupa dimakan. Arsitek kalau pingsan nggak lucu, nanti dikira tumbal proyek."

Dia duduk di atas tumpukan kayu, memperhatikanku memberi arahan pada tukang.

"Pak, pondasi cakar ayamnya gali sedalam satu meter ya. Tanahnya agak gembur di sini," kataku pada Pak Tukang.

"Siap, Nona!"

Dhyo nyeletuk, "Kalau pondasi cinta kita galinya sedalam apa, Nona?"

Pak Tukang tertawa ngakak. "Aduh, Pak Guru Dhyo ini pagi-pagi sudah bikin gula darah naik."

Aku mendelik pada Dhyo. "Diam kamu. Nanti aku cor kaki kamu di situ."

"Sadis. Tapi aku suka."

Siangnya, matahari Desa terasa memanggang ubun-ubun. Panasnya jahat. Aku melihat Dhyo ikut-ikutan mengangkat sak semen membantu tukang. Keringatnya bercucuran. Otot lengannya menegang.

Aku langsung panik.

"Dhyo! Jangan angkat-angkat yang berat!" teriakku, berlari menghampirinya.

Dhyo menurunkan sak semen itu dengan mudah. "Kenapa? Ini enteng kok. Lebih berat rindu padamu."

"Nggak lucu! Nanti punggungmu sakit. Nanti hernia. Kamu kan bukan kuli, kamu itu programmer! Tanganmu itu buat ngetik kode, bukan buat kasar begini!" omelku panjang lebar. Aku mengambil tisu dari saku, mengelap keringat di dahinya dengan sedikit kasar.

Dhyo diam, membiarkan aku mengomel. Dia menatapku lekat-lekat sambil tersenyum geli.

"Kenapa senyum-senyum?!" sentakku.

"Kamu lucu kalau lagi mode Protective Girlfriend. Kayak antivirus yang lagi scanning malware."

"Aku serius, Dhyo! Kalau kamu sakit di sini, siapa yang rawat? Obat susah. Dokter nggak ada."

Dhyo menangkap tanganku yang sedang memegang tisu. Dia menggenggamnya erat.

"Ada kamu," katanya pelan. "Lagian aku kuat, Candy. Aku anak sini. Tulangku dari besi, uratku dari kawat, hatiku dari kamu."

"Gombal lagi."

"Beneran. Udah, jangan cemberut. Nanti cantiknya luntur, Pak Tukang naksir."

Aku menghela napas. Dhyo tidak mengerti.

Bukan soal sakit pinggang atau lecet. Aku takut terjadi sesuatu padanya saat aku... tidak ada.

Pikiran itu terus menghantuiku. Penelitianku hampir selesai. Proyek puskesmas ini mungkin memakan waktu dua bulan lagi. Setelah itu?

Aku harus pulang ke Jakarta.

Tiket pesawatku belum dipesan, tapi jadwal kepulanganku sudah ada di kalender. Tanggalnya dilingkari merah, seperti peringatan bahaya.

Apa yang terjadi kalau aku pulang?

Dhyo tetap di sini, di desa tanpa sinyal ini, mengabdi entah sampai kapan. Dan aku di Jakarta, di belantara beton, mengejar karir.

LDR (Long Distance Relationship)? Dengan sinyal yang on-off?

Mustahil.

Ketakutan itulah yang membuatku jadi ingin melindunginya dari segala hal. Dari debu proyek, dari panas matahari, dari makanan pedas, dari segalanya. Karena aku tahu, sebentar lagi aku tidak bisa melindunginya.


***


Sorenya, kami duduk di pantai lagi. Rutinitas baru. Menunggu sunset.

Puskesmas sudah mulai terlihat bentuk pondasinya. Batu kali tersusun rapi.

"Dhyo," aku bersandar di bahunya.

"Hm?" Dia sedang sibuk menguliti kacang rebus.

"Kalau Puskesmas ini jadi, nanti ada dokter yang datang kan?"

"Iya. Katanya dokter PTT (Pegawai Tidak Tetap). Pemerintah janji kirim dokter muda. Semoga dokternya nggak rese kayak kamu waktu pertama datang."

"Aku rese?"

"Banget. Muka jutek, kacamata hitam, sepatu kets putih yang nggak boleh kotor. Kayak turis nyasar."

Aku mencubit pinggangnya. "Sakit!"

"Tapi sekarang..." Dhyo menoleh, menatap mataku serius. "Sekarang kamu bukan turis lagi. Kamu bagian dari Desa ini. Kamu udah bisa makan papeda tanpa keselek, udah bisa jalan di karang tanpa sendal, udah bisa..."

"Udah bisa apa?"

"Udah bisa mencuri hati pemuda lokal yang paling tampan."

Aku tersenyum getir. "Terus, kalau Puskesmas jadi... dan penelitianku selesai... aku harus balik ke Jakarta, Dhyo."

Kalimat itu akhirnya keluar. Menggantung di udara seperti awan mendung.

Dhyo berhenti mengunyah kacang. Dia memandang laut lepas. Ombak bergulung pelan.

"Aku tahu," jawabnya datar.

"Terus gimana?"

"Gimana apanya?"

"Kita."

Dhyo diam lama sekali. Dia melempar kulit kacang ke pasir.

"Candy," katanya sambil menatapku. Tidak ada candaan di matanya kali ini. "Kita ini kayak project open source. Kodenya terbuka, siapa aja bisa lihat, tapi pengembangnya cuma kita berdua. Masalah nanti server-nya beda lokasi, itu urusan teknis."

"Teknis itu susah, Dhyo! Jakarta-Ambon itu jauh. Ambon ke sini lebih jauh lagi. Sinyal susah. Tiket mahal."

"Tahu. Aku tahu matematika jarak, Candy." Dhyo meraih tanganku, memainkan jari-jariku. "Tapi dengerin aku. Kamu selesaikan dulu Puskesmas itu. Itu mimpi warga sini. Jangan mikirin perpisahan dulu. Nikmatin hari ini. Carpe Diem, kata orang bule."

"Kamu nggak takut aku pergi?"

Dhyo tersenyum tipis. Ada guratan sedih di sana yang dia coba sembunyikan.

"Takut. Bohong kalau nggak takut. Rasanya kayak mau delete folder system32 di laptop. Rusak semua. Tapi aku nggak mau egois. Kamu punya mimpi di Jakarta. Aku punya janji di sini. Kita jalanin aja dulu. Siapa tahu nanti ada keajaiban. Siapa tahu Starlink diskon, atau aku bisa teleportasi."

Lagi-lagi dia bercanda di ujungnya.

Aku memeluk lengannya erat. Menenggelamkan wajahku di kaosnya yang bau matahari.

Aku ingin membekukan waktu. Aku ingin selamanya di pantai ini, dengan Dhyo yang aneh ini, makan kacang rebus dan bicara ngawur.

"Janji ya, Dhyo," bisikku.

"Janji apa?"

"Jaga kesehatan. Jangan manjat pohon kelapa kalau licin. Jangan begadang ngoding kalau nggak penting. Jangan lupa makan."

"Iya, Ibunda Ratu. Bawel amat sih."

"Aku serius!"

"Iya, sayang. Aku serius juga." Dhyo mencium puncak kepalaku sekilas. Ciuman seringan kapas, tapi efeknya seperti gempa bumi 5 skala Richter di hatiku. "Selama kamu di sini, aku aman. Kalau kamu pergi... ya nanti aku minta backup data ke Tuhan."


***


Malam harinya, aku tidak bisa tidur.

Aku membuka laptop, melihat progress laporan penelitianku. Sudah 90%. Tinggal kesimpulan dan saran.

Di luar, suara genset menderu. Lampu kamarku menyala redup.

Ponselku bergetar. Satu pesan WhatsApp masuk. Tumben sinyal bagus.


Dhyo (Pacarku):

Jangan begadang. Arsitek kalau mata panda, nanti gambarnya miring.

(Send Picture)


Dia mengirim foto selfie. Fotonya gelap, cuma kelihatan gigi putihnya yang nyengir dan latar belakang langit berbintang. Caption-nya: Orion lagi jagain kamu dari atas. Tidur nyenyak.

Aku tersenyum, lalu menangis pelan.

Ah, sial. Jatuh cinta pada laki-laki desa ini ternyata semenyakitkan ini.

Semakin aku mencintainya, semakin aku takut hari esok datang.

Aku melihat kalender lagi.

Bulan depan. Puskesmas rampung. Dokter baru akan datang. Dan aku... aku akan pergi.

Aku mengetik balasan singkat.


Me:

Kamu juga tidur. Love you, Admin.


Dhyo (Pacarku):

Love you too, User VIP.


Malam itu, aku bermimpi tentang jembatan. Jembatan yang menghubungkan Monas dan Pantai Desaku. Mustahil, tapi indah.

Dan esok paginya, aku bangun dengan tekad baru. Aku akan menyelesaikan Puskesmas itu dengan sempurna. Itu akan jadi monumen cintaku di sini. Bangunan yang kokoh, sekuat harapanku pada Dhyo.

Biarlah waktu yang menjawab. Sekarang, aku cuma mau menikmati setiap detik omelan Dhyo, setiap detik tawa renyahnya, dan setiap detik kebersamaan kami yang rasanya seperti limited edition.

Karena kata Dhyo, bug dalam hidup itu wajar. Yang penting gimana kita menanganinya tanpa harus crash.


***


Catatan Penulis :

Cinta itu aneh ya.

Makin dekat, makin takut pisah.

Candy jadi protektif itu wajar. Itu naluri arsitek: dia tahu struktur mana yang rapuh, dan dia berusaha memperkuatnya. Sayangnya, hati manusia nggak bisa dicor pakai beton.

Dhyo juga sebenernya takut. Cuma dia cowok. Gengsi dong kalau nangis. Dia milih ketawa, padahal dalam hati mungkin lagi loading kesedihan.


Siap-siap tisu buat bab selanjutnya. Puskesmas jadi, perpisahan makin dekat, dan kedatangan dokter baru mungkin bakal bawa drama baru?