Bab 7: 
Bau Cat Tembok dan Upacara Perpisahan yang Tak Diucapkan



Ada dua bau yang paling aku ingat dari Desa ini.

Pertama, bau laut yang amis tapi segar saat subuh.

Kedua, bau cat tembok baru yang menyengat hidung siang ini.

Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa ini sudah jadi.

Bangunan itu cukup memadai. Ada ruang periksa, ruang rawat inap , ruang obat, dan—ini kebanggaanku—kamar mandi yang proper dengan air yang mengalir lancar dari tandon di atas bukit.

Aku berdiri di halaman Puskesmas yang baru diratakan dengan kerikil putih. Menatap hasil karyaku.

Rasanya? Bangga. Jelas.

Tapi ada rasa lain yang mengganjal di tenggorokan. Rasa sesak.

Karena bangunan ini selesai, berarti tugasku selesai. Penelitianku selesai. Alasanku untuk tinggal di sini... juga selesai.

"Bagus ya," suara Dhyo muncul di belakangku.

Aku tidak menoleh. Aku tahu dia ada di situ dari bau kopi dan aroma matahari yang menempel di bajunya.

"Lumayan. Untuk ukuran desa terpencil, ini mewah," jawabku, berusaha terdengar profesional.

Dhyo maju selangkah, berdiri di sampingku. Dia memakai kemeja flanel kotak-kotak yang lengan panjangnya digulung asal-asalan, dan celana jeans yang sobek di lutut (bukan karena fashion, tapi karena kemarin jatuh dari motor bebek Pak Kades).

"Bukan lumayan," koreksi Dhyo. "Ini masterpiece. Taj Mahal versi Maluku. Bedanya, Taj Mahal buat orang mati, ini buat orang hidup."

Aku tersenyum tipis. "Kamu bisa aja."

"Serius. Lihat itu jendelanya. Lebar-lebar. Angin masuk bebas. Nanti pasien yang sakit malaria, sembuh bukan karena obat, tapi karena masuk angin."

"Dhyo!" Aku menyikut pinggangnya. "Itu ventilasi silang. Biar sirkulasi udara bagus. Biar kuman nggak ngendap."

"Iya, Ibu Arsitek. Ampun." Dhyo mengangkat kedua tangannya. "Tapi beneran, Candy. Kamu hebat. Dulu tempat ini cuma semak belukar tempat biawak pacaran. Sekarang jadi gedung putih gagah. Warga sini berhutang nyawa sama kamu."

"Berlebihan. Ini uang negara, Dhyo. Aku cuma gambar."

"Gambar itu nyawa. Tanpa gambar kamu, uang negara cuma jadi tumpukan batako yang nggak jelas bentuknya."

Dia menatapku. Matanya teduh, tapi ada kilatan sedih yang dia coba sembunyikan dengan senyuman miring khasnya.

"Kapan peresmiannya?" tanyanya.

"Besok. Pak Kades mau potong pita. Katanya Camat juga hadir kalau lautan teduh."

"Oke. Aku siap jadi seksi sibuk. Bagian habisin kue."

***

Malam harinya, aku sibuk packing.

Bukan packing baju untuk pulang (belum), tapi membereskan dokumen-dokumen penelitian di meja kerjaku. Kertas-kertas berserakan. Laptopku menyala menampilkan grafik data penduduk.

Dhyo duduk di lantai kayu, bersandar pada dinding. Dia memang sering mampir kalau malam, sekadar menemaniku kerja atau numpang men-charge HP karena di rumahnya colokan listrik rebutan.

Kali ini dia diam. Tidak main game. Tidak mengotak-atik kodingan. Dia cuma memetik senar gitar pelan, tanpa nada yang jelas. Plong... pling... plung...

"Kenapa diam?" tanyaku tanpa menoleh dari layar laptop.

"Lagi mengheningkan cipta," jawabnya.

"Buat siapa?"

"Buat hari-hari tenangku yang sebentar lagi hilang."

Aku berhenti mengetik. Memutar kursi menghadapnya. "Maksudnya?"

Dhyo meletakkan gitarnya. Dia menatap langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu.

"Puskesmas jadi. Penelitian kamu beres. Tiket pesawat udah dipesan?" tanyanya langsung.

Deg.

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

"Belum," jawabku pelan. "Tapi laporannya harus dikirim minggu depan. Aku harus presentasi di Jakarta akhir bulan."

"Berarti... dua minggu lagi?"

"Mungkin. Atau lebih cepat."

Hening. Suara ombak di kejauhan terdengar lebih keras dari biasanya. Suara genset desa mendadak terasa bising dan menyebalkan.

Dhyo menghela napas panjang. Dia bangun, berjalan mendekatiku, lalu duduk di tepi meja kerjaku. Kakinya yang panjang menggantung.

"Candy," panggilnya lembut.

"Ya?"

"Kamu tahu nggak kenapa aku suka mendaki gunung?"

Aku menggeleng. "Kenapa? Karena pemandangannya bagus?"

"Bukan. Karena di gunung, setiap langkah itu mendekatkan kita ke tujuan, tapi sekaligus mendekatkan kita buat turun lagi. Nggak ada pendaki yang tinggal selamanya di puncak. Puncak itu cuma tempat singgah. Rumah kita tetap di bawah."

Dia menatap mataku lekat-lekat.

"Kamu itu puncak gunungku, Candy. Indah. Tinggi. Dingin. Tapi aku tahu, suatu saat kamu harus turun. Atau aku yang harus turun."

Mataku memanas. "Dhyo... jangan ngomong gitu."

"Ini realita, Sayang. Runtime error. Kita nggak bisa selamanya di fase 'bulan madu' di desa ini. Kamu punya karir. Kamu punya dunia yang lebih besar dari sekadar Desa Afang yang listriknya byar-pet ini."

"Aku bisa minta perpanjangan waktu! Aku bisa ajuin proposal pendampingan desa!" potongku cepat, panik.

Dhyo tersenyum getir. Dia mengusap pipiku dengan punggung tangannya.

"Jangan. Jangan korbankan masa depanmu buat nemenin cowok kampung yang kerjanya cuma ngurusin kabel LAN sama manjat kelapa. Arsitekturnya Jakarta butuh kamu. Gedung-gedung tinggi itu butuh sentuhanmu biar nggak kaku."

"Tapi aku maunya di sini! Sama kamu!"

Air mataku jatuh. Satu tetes. Dua tetes. Lalu deras.

Dhyo menarikku ke dalam pelukannya. Dia membenamkan wajahku di dadanya. Kaosnya wangi sabun colek yang murah, tapi bagiku itu wangi paling menenangkan di dunia.

"Sstt... jangan nangis. Nanti banjir. Puskesmas baru belum punya asuransi banjir," bisiknya, mencoba melucu meski suaranya bergetar.

"Aku takut, Dhyo. Kalau aku pulang... kita gimana?"

"Kita tetap kita. Cuma beda server aja. Lagian kan ada video call. Ada WhatsApp. Nanti aku pasang repeater sinyal di pohon paling tinggi biar bisa teleponan sama kamu tiap malam."

"Tapi beda..."

"Emang beda. Nggak bisa pegang tangan. Nggak bisa boncengan motor butut. Nggak bisa liat bintang bareng. Tapi rasanya tetap sama, Candy. Percaya sama aku."

Malam itu, kami menghabiskan waktu dengan diam. Dhyo memelukku sampai aku berhenti sesenggukan. Dia tidak menjanjikan hal-hal muluk. Dia tidak bilang "aku akan nyusul ke Jakarta" (karena dia tahu itu butuh uang banyak). Dia cuma ada di sana, menjadi tiang sandaran yang kokoh saat duniaku mulai goyah.

***

Besoknya, peresmian Puskesmas.

Pak Camat benar-benar datang naik speedboat dinas. Ada juga Pak Bupati beserta rombongan, juga perwakilan dari Dinas Kesehatan dan dan PU Provinsi. Pak Kades memakai batik terbaiknya yang agak kegedean. Warga berkumpul. Anak-anak SD berbaris mengibaskan lemso.

Aku berdiri di samping Pak Kades, memakai kemeja putih rapi dan celana bahan. Rambutku diikat rapi.

Dhyo? Dia ada di pojokan, mengurus sound system yang kabelnya semrawut. Dia memakai kemeja batik lengan pendek yang warnanya sudah pudar, tapi dia terlihat ganteng.

"Dengan ini, Puskesmas Pembantu Desa Afang saya resmikan!" teriak Pak Bupati.

Gunting pita. Tepuk tangan riuh. Sorak sorai.

Ibu-ibu menangis haru. Akhirnya mereka punya tempat berobat yang layak. Tidak perlu lagi bertaruh nyawa menyeberang laut kalau mau melahirkan.

"Terima kasih, Ibu Arsitek!" seru seorang bapak tua menyalamiku erat.

"Terima kasih, Nona Candy!"

Aku tersenyum, menyalami mereka satu per satu. Hatiku hangat, tapi juga perih. Ini adalah legacy-ku. Jejakku di sini.

Di tengah kerumunan, mataku bertemu dengan mata Dhyo.

Dia tidak ikut bertepuk tangan. Dia berdiri bersandar di tiang kayu, menatapku dengan bangga. Dia mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. Lalu dia menunjuk dadanya sendiri, dan menunjuk ke arahku.

Kamu di sini, isyaratnya.

Aku mengangguk, menahan tangis lagi.

Acara selesai siang hari. Kami makan bersama tumpeng nasi kuning dan ikan bakar. Suasana meriah.

Tiba-tiba Pak Kades mengumumkan sesuatu lewat mik yang berdenging.

"Bapak Ibu warga desa sekalian! Ada kabar gembira lagi! Barusan saya dapat infromasi dari bapak yang datang mewakili Dinas Kesehatan Provinsi!"

Hening sejenak.

"Kapal perintis minggu depan akan sandar! Dan di kapal itu, ada Dokter PTT baru yang ditugaskan di Puskesmas kita ini! Namanya Dokter... siapa tadi... ah pokoknya dokter muda dari Jawa!"

Sorak sorai warga makin kencang. "Horeee! Ada dokter!"

Aku terpaku. Sendokku berhenti di udara.

Dhyo yang duduk di seberangku juga terdiam. Wajahnya berubah datar.

Dokter baru datang.

Itu artinya, posisiku benar-benar sudah tergantikan.

Puskesmas sudah jadi. Dokternya sudah ada.

Penelitianku selesai.

Waktuku habis.

Dhyo menatapku. Dia tersenyum, tapi matanya tidak.

Dia tahu. Aku tahu.

Kapal perintis minggu depan itu. Itu kapal yang akan membawa dokter baru datang... dan membawaku pergi.

"Minggu depan, ya?" gumam Dhyo pelan, nyaris tak terdengar di antara hingar bingar pesta rakyat.

Aku menunduk, menatap nasi kuningku yang tiba-tiba terasa hambar.

"Iya. Minggu depan," jawabku lirih.

Minggu depan. Tujuh hari lagi.

Tujuh hari untuk merekam setiap inci wajah Dhyo.

Tujuh hari untuk menyimpan suara tawanya.

Tujuh hari untuk bersiap patah hati.

Langit Timur hari itu cerah sekali. Awan putih berarak pelan. Tapi di hatiku, mendung sudah menggantung tebal, siap menumpahkan hujan badai yang paling deras.


***


Catatan Penulis:

Puskesmas sudah jadi, kok malah sedih? Ya begitulah hidup. Kadang pencapaian terbesar kita adalah pintu keluar dari zona nyaman.

Di bab ini, Candy sadar kalau dia cuma tamu. Tamu yang berjasa, tapi tetap tamu.

Dhyo? Dia tuan rumah yang baik. Dia nggak nahan tamunya pulang, meski dia ingin tamunya tinggal selamanya. Itu cinta yang dewasa, atau mungkin cinta yang pasrah?