Bab 8:
Sang Dokter, USB Misterius, dan Jakarta yang Kehilangan Sinyal
Hari itu akhirnya datang juga. Hari Minggu.
Di Desa, hari Minggu biasanya tenang. Tapi pagi ini, suasana tegang seperti mau ada kick-off final Piala Dunia.
Penyebabnya satu: Kapal Perintis KM. Sabuk Nusantara sudah terlihat di ufuk timur. Putih, besar, dan pelan. Kapal itu membawa dua hal yang kontradiktif: Harapan baru (Dokter PTT) dan Perpisahan (Aku).
Aku berdiri di pantai, koperku sudah tertumpuk di samping kaki. Hatiku berdegup kencang, bukan karena takut ombak, tapi karena takut... cemburu.
Ya, aku cemburu pada dokter baru itu.
Bayangkan, dia akan menempati rumah dinas di samping Puskesmas yang kubangun. Dia akan merawat warga yang sudah kuanggap keluarga. Dan yang paling parah: dia akan menjadi orang baru yang menemani hari-hari Dhyo.
"Tegang amat, Nona," celetuk Dhyo. Dia berdiri di sampingku, memakai kemeja hitam favoritnya dan kacamata hitam yang gagangnya sudah dilakban merah.
"Siapa yang tegang? Biasa aja," elakku.
"Bohong. Itu jari tanganmu ngeremes ujung baju sampai lecek. Santai aja. Kalau dokter barunya cantik, aku janji nggak akan naksir. Paling cuma minta nomor WA buat konsultasi... ehem... panu."
"Dhyo!" Aku memukul lengannya keras. "Kamu punya panu?"
"Nggak lah. Kulitku ini eksotis, bukan fungal infection. Itu cuma alibi."
Kapal semakin dekat. Sekoci penjemput (karena tidak ada dermaga besar) diturunkan. Pak Kades dan rombongan penjemput sudah di bibir pantai.
Sekoci merapat.
Semua mata tertuju pada sosok yang berdiri di haluan sekoci. Membawa tas medis besar. Memakai jaket hoodie abu-abu.
Jantungku berhenti berdetak.
Sosok itu melompat turun ke air. Dia membuka kupluk jaketnya.
Rambutnya cepak.
Rahangnya tegas.
Ada kumis tipis.
Laki-laki.
"Waduh," bisik Dhyo di telingaku. "Cowok, Can. Ganteng lagi. Saingan berat nih."
Aku menghembuskan napas lega yang luar biasa panjang. Hufft. Rasanya beban satu ton di pundakku hilang. Ternyata dokter baru itu laki-laki. Namanya Dokter Raka. Lulusan Universitas Airlangga, Surabaya.
"Selamat datang, Pak Dokter!" Pak Kades menyalami dengan semangat 45.
Dokter Raka tersenyum ramah. Giginya putih, kulitnya bersih (belum terbakar matahari). Dia menyalami warga satu per satu. Lalu matanya tertuju padaku dan Dhyo.
"Halo," sapa Dokter Raka. Suaranya berat dan berwibawa. "Saya Raka. Anda pasti Arsitek Candy yang legendaris itu, dan ini...?"
"Saya Dhyo, Dok," Dhyo menyambar cepat, menjabat tangan Raka dengan gaya sok akrab. "Kepala Keamanan Hati Desa ini, merangkap teknisi IT dan pawang hujan kalau lagi mood."
Dokter Raka tertawa renyah. "Senang bertemu kalian. Puskesmasnya bagus sekali. Saya sudah lihat fotonya di laporan Dinas."
Aku tersenyum. "Terima kasih, Dok. Titip Puskesmas ya. Tolong dirawat seperti anak sendiri."
"Pasti. Dan titip Dhyo juga ya, Dok. Dia agak bandel, suka makan gorengan. Tolong sering-sering cek kolesterolnya," tambahku.
Dhyo mendelik. "Sembarangan. Aku ini sehat wal afiat."
Satu jam kemudian.
Sekoci yang membawa Dokter Raka tadi, kini menunggu penumpangnya yang akan pergi: Aku.
Warga berkumpul lagi. Kali ini suasananya haru. Ibu-ibu menangis. Anak-anak kecil memeluk kakiku.
"Nona Arsitek jangan lupa kami e!"
"Nona Candy, nanti kalau nikah undang kami ya!"
Aku memeluk mereka satu per satu. Air mataku tidak bisa ditahan lagi. Desa ini, dengan segala keterbatasannya, telah memberiku lebih banyak pelajaran daripada empat tahun kuliah di Jakarta.
Dan terakhir... Dhyo.
Dia berdiri agak jauh dari kerumunan, di dekat pohon kelapa yang miring. Tangannya dimasukkan ke saku celana. Dia tidak menangis. Wajahnya tenang, tapi matanya... ah, mata itu bicara banyak hal yang tidak bisa diucapkan bibir.
Aku berjalan mendekatinya.
"Hei," sapaku serak.
"Hei juga, Alumni desaku," jawabnya.
"Aku pergi ya."
"Iya. Hati-hati. Laut lagi tenang. Semoga nggak mabuk lagi. Kalau mabuk, ingat aku aja. Pasti langsung sembuh... atau makin pusing."
Aku tertawa kecil di sela tangis. "Kamu nggak mau peluk aku?"
Dhyo melihat ke sekeliling. Banyak warga. Dia maju selangkah, lalu menepuk kepalaku pelan. Sangat pelan.
"Nggak usah peluk. Nanti aku nggak mau lepasin. Repot. Kapalnya nunggu."
Dia merogoh saku kemejanya. Mengeluarkan sebuah flashdisk kecil berbentuk karakter Iron Man.
"Nih. Buat kamu."
"Apa ini?"
"Oleh-oleh. Isinya bukan virus, tenang aja. Isinya... ya pokoknya buka aja nanti kalau udah di Jakarta. Jangan dibuka di kapal, nanti sinyalnya interfere sama navigasi kapten."
Aku menggenggam flashdisk itu erat. "Makasih, Dhyo."
"Sana naik. Keburu hujan."
Aku menatapnya sekali lagi. Merekam wajahnya. Hidung mancungnya, kulit gelapnya, rambut gondrongnya yang berantakan ditiup angin.
"Dhyo," bisikku. "Aku sayang kamu."
Dhyo tersenyum. Senyum paling tulus yang pernah kulihat.
"Aku tahu. Server hatiku udah nyatet itu di log file permanen. Udah, jalan sana. Jangan nengok lagi."
Aku berbalik. Berjalan menuju sekoci dengan langkah berat.
Saat sekoci mulai menjauh, aku melanggar perintahnya. Aku menoleh.
Dhyo masih di sana. Berdiri tegak. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, membentuk tanda 'Peace' dengan jarinya. Atau mungkin itu huruf 'V' untuk Victory? Atau dua jam lagi dia akan rindu?
Sekoci membawaku ke kapal besar. Dan perlahan, Desa, pantai pasir putih, Puskesmas baru, dan Dhyo... mengecil menjadi titik, lalu hilang ditelan cakrawala biru.
Tiga Bulan Kemudian - Jakarta
Jakarta itu berisik.
Suara klakson, suara announcer MRT, suara notifikasi HP yang tidak berhenti.
Aku duduk di kubikel kantorku di daerah Sudirman. AC menyala dingin, tapi rasanya kering. Tidak sesejuk angin laut di desa Dhyo. Di layar komputerkun terpampang desain high-rise building yang rumit.
"Can, ngelamun lagi?" sapa Siska, teman kantorku. "Mikirin si Tarzan Kota itu ya?"
Aku tersenyum kecut. "Namanya Dhyo, Sis. Bukan Tarzan."
"Iya deh. Gimana kabarnya? Masih LDR via telepati?"
Aku menghela napas. "Susah sinyal, Sis. Seminggu ini dia nggak ada kabar. WA centang satu terus. Katanya Starlink di desa lagi maintenance atau kuotanya habis, entahlah."
Sudah tiga bulan.
Komunikasi kami putus nyambung seperti layangan aduan. Kadang lancar jaya sampai video call berjam-jam, kadang hilang total seminggu.
Rindu? Jangan tanya. Rasanya dada ini mau meledak.
Aku kangen lelucon garingnya. Kangen kopi jahenya. Kangen cara dia memanggilku "Nona Arsitek".
Siska berlalu. Aku membuka laci mejaku. Di sana ada flashdisk Iron Man pemberian Dhyo.
Sejak pulang, aku belum berani membukanya. Takut. Takut isinya surat perpisahan, atau puisi sedih, atau video kenangan yang bikin aku nangis di kantor.
Tapi hari ini, rasa kangenku sudah di ubun-ubun.
Aku mengambil flashdisk itu. Menancapkannya ke port USB laptop.
Drive F: DETECTED.
Nama drivenya: ORION_BELT.
Aku membukanya.
Hanya ada satu file di dalamnya. Bukan video, bukan foto, bukan dokumen Word.
Tapi sebuah shortcut aplikasi berekstensi .exe.
Namanya: Klik_Aku_Dong.exe
Dasar Dhyo. Orang IT memang beda.
Dengan tangan gemetar, aku mengklik dua kali file itu.
===============================================================
Layar laptopku berkedip hitam sebentar. Lalu muncul jendela Command Prompt ala hacker di film-film. Tulisan hijau berjalan cepat.
> SYSTEM BOOTING...
> CHECKING HEARTBEAT... OK.
> DETECTING CANDIDA REVOLUTA... FOUND.
> LOADING MESSAGE...
Lalu layar berubah menjadi tampilan antarmuka (UI) sederhana tapi manis. Latar belakangnya foto kami berdua di Pantai desa saat sunset.
Di tengah layar, ada kotak pesan.
"Halo, Nona Arsitek. Kalau kamu baca ini, berarti kamu udah di Jakarta. Udah makan belum? Jangan lupa minum air putih, Jakarta panasnya beda sama di Desa."
Aku tertawa kecil, air mata mulai menggenang.
Aku mengklik tombol "NEXT".
"Kamu pasti kangen aku kan? Ngaku aja. Sistem mendeteksi kadar rindu 99%."
"NEXT".
"Sebenernya aku mau bilang sesuatu pas di pantai waktu itu, tapi gengsi. Malu sama Dokter Raka yang ganteng."
"NEXT".
"Candy, Puskesmas udah jadi. Dokter udah ada. Tugasku nemenin kamu di sana udah selesai. TAPI..."
Jantungku berdegup kencang.
"...tapi tugasku buat ngejar mimpi aku sendiri belum mulai. Kamu pernah bilang kan, sayang kalau ilmu IT aku cuma dipake buat ngitung kelapa?"
"NEXT".
"Jadi, selama kamu pergi, aku iseng-iseng ikut tes beasiswa S2. Dan ngelamar kerja remote di salah satu startup unicorn. Modal nekat dan sinyal Starlink pinjeman Pak Kades."
Aku menutup mulutku dengan tangan. Ya Tuhan.
"NEXT".
"Hasilnya? Hmm... Coba kamu lihat ke belakang."
Layar laptop mati. Program tertutup sendiri.
Aku bingung. Lihat ke belakang?
Maksudnya apa? Belakang kubikelku?
Aku menoleh pelan.
Hanya ada dinding kaca kantor yang menampilkan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta dan langit sore yang jingga. Tidak ada siapa-siapa. Siska sudah pulang. Kantor sepi.
Ponselku di meja bergetar panjang. Telepon masuk.
Nama di layar: Dhyo (Pacarku).
Tumben? Sinyal bagus?
Dengan tangan gemetar, aku mengangkatnya. "Halo? Dhyo?"
"Halo, Nona Arsitek," suara itu terdengar jernih. Sangat jernih. Tidak ada delay, tidak ada suara keresek statis, tidak ada suara genset di latar belakang. "Programnya error ya? Kok disuruh lihat ke belakang malah nggak ada apa-apa?"
"Dhyo... kamu di mana? Kok suaranya jernih banget?"
Terdengar tawa renyah yang sangat kurindukan di ujung telepon.
"Coba kamu berdiri, terus jalan ke arah jendela lobi bawah. Aku nggak bisa masuk, satpam kantor kamu galak banget. Katanya aku kayak kurir paket nyasar."
Aku terlonjak dari kursi. Jantungku rasanya mau copot.
Aku berlari. Mengabaikan sepatu hak tinggiku yang berisik di lantai marmer. Aku menekan tombol lift dengan panik. Lift terasa sangat lambat turun dari lantai 15.
Ting!
Pintu lift terbuka di lobi.
Aku berlari ke arah pintu kaca depan gedung.
Di sana, di trotoar Sudirman yang ramai orang pulang kerja.
Ada seorang laki-laki.
Dia tidak lagi memakai celana pendek kargo atau kaos oblong bau matahari.
Dia memakai kemeja flanel rapi, celana jeans panjang, dan sepatu sneakers yang masih terlihat baru. Rambut gondrongnya sudah dipotong rapi, meski masih terlihat sedikit berantakan tertiup angin kota.
Di punggungnya ada tas ransel besar.
Itu Dhyo. Randhy Orion.
Dia berdiri di sana, memegang ponsel di telinga kanan, dan melambaikan tangan kiri ke arahku sambil nyengir lebar—cengiran khas yang sama seperti saat dia memperbaiki genset desa.
Aku terpaku di balik pintu kaca.
Rasanya seperti mimpi.
Dhyo menunjuk HP-nya, memberi isyarat agar aku mengangkat telepon yang masih tersambung.
Aku menempelkan HP ke telinga lagi, mataku tak lepas dari sosok nyata di seberang sana.
"Candy," suaranya terdengar lembut di telingaku.
"Ya?" suaraku bergetar hebat.
"Dokter Raka ternyata jago coding juga. Dia gantiin aku urus sistem desa. Jadi... aku resign jadi admin desa."
"Terus?"
"Terus aku memutuskan untuk migrasi data."
"Migrasi ke mana?"
Dhyo menatap mataku dari kejauhan, senyumnya meredup berganti tatapan serius yang hangat.
"Ke server pusat. Ke tempat di mana 'Admin' dan 'User' bisa satu jaringan tanpa latency."
Dia merentangkan kedua tangannya. Isyarat pelukan.
"Selamat sore, Jakarta," katanya di telepon. "Selamat sore, masa depan. Boleh aku masuk? Atau harus install antivirus dulu?"
Aku tidak menjawab. Aku mematikan telepon, mendorong pintu kaca berat itu sekuat tenaga, dan berlari menerjang trotoar Jakarta.
Aku tidak peduli orang-orang melihat.
Aku tidak peduli aku arsitek lulusan terbaik yang harusnya jaim.
Aku berlari menabrak tubuhnya. Memeluknya erat. Menghirup aroma tubuhnya yang kini bercampur bau asap knalpot Jakarta, tapi tetap... itu aroma Dhyo. Aroma rumah.
Dia memelukku balik, mengangkat tubuhku sedikit berputar.
"Dhyo... kamu gila..." bisikku di lehernya.
"Emang. Kan udah dibilang, aku bug yang nggak bisa di-fix," bisiknya balik.
Di tengah hiruk pikuk Jakarta, di bawah langit yang tidak berbintang karena polusi, aku tahu satu hal.
Langit Timur mungkin indah, tapi langit di mana ada Dhyo di bawahnya, adalah langit yang paling kurindukan.
Dan cerita kami?
Ah, ini baru saja selesai proses installing.
Sekarang, saatnya menjalankan aplikasinya.
Aku mengeratkan pelukan, tidak ingin melepaskannya barang sedetik pun. Rasanya damai sekali. Seperti pulang ke rumah.
Namun, perlahan... bahu Dhyo terasa dingin.
Tubuhnya yang padat dan hangat perlahan memudar. Menjadi asap. Menjadi angin.
"Dhyo?" panggilku panik.
"Jaga diri baik-baik, Candy..." suaranya menjauh, bergema di antara deru hujan. "Jangan lupa makan..."
"Dhyo! Jangan pergi!"
Sosoknya hancur menjadi butiran piksel digital, lalu lenyap ditelan gelap.
"Mbak Candy? Mbak?"
Sebuah tepukan di bahu menyentakkanku.
Aku terlonjak bangun. Napas terengah-engah. Jantung berdegup kencang.
"Mbak Candy, bangun. Sudah jam sepuluh malam. Gedung mau dikunci."
Aku mengerjapkan mata yang basah dan perih.
Di depanku bukan Dhyo.
Itu Pak Satpam kantor, Pak Ujang, yang menatapku dengan wajah khawatir.
Aku menoleh ke sekeliling.
Kubikel kantor yang dingin. Lampu-lampu sebagian sudah dimatikan. Hujan deras memukul-mukul kaca jendela lantai 15.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Tidak ada Dhyo di lobi. Tidak ada kemeja flanel basah. Tidak ada aroma laut.
Itu cuma mimpi.
Aku menatap layar laptopku yang sudah masuk mode sleep. Aku menggerakkan mouse. Layar menyala kembali, menampilkan pesan terakhir dari program Klik_Aku_Dong.exe yang rupanya belum selesai kubaca tadi.
Di layar itu, bukan tertulis "Lihat ke belakang".
Tapi sebuah pesan panjang dengan latar hitam pekat.
"Candy, terima kasih sudah mau mampir di hidupku. Terima kasih sudah bangun Puskesmas yang cantik itu.
Aku tahu kamu pasti berharap aku nyusul ke Jakarta. Jujur, aku pengen banget. Tapi kalau aku ke sana, siapa yang jagain sinyal desa? Siapa yang ngajarin anak-anak main laptop? Siapa yang nemenin Pak Kades debat?
Kamu punya mimpi membangun kota. Aku punya mimpi membangun desa. Kita sama-sama arsitek, Candy. Bedanya, kamu membangun gedung, aku membangun manusia.
Jangan sedih ya. Kita masih di bawah langit yang sama kok. Cuma beda koordinat GPS aja. Kalau kangen, lihat aja bintang Orion. Aku selalu ada di sana, jagain kamu dari jauh.
Selamat berkarya, Nona Arsitek. Bikin Jakarta bangga.
Tertanda,
Randhy Orion (Admin Desa yang Paling Ganteng)."
Lalu di bawahnya ada tombol: [EXIT PROGRAM].
Aku menatap tombol itu lama sekali. Air mataku menetes jatuh ke atas keyboard.
Sakit.
Rasanya lebih sakit daripada saat mabuk laut di tengah badai.
Harapan itu patah. Dhyo tidak datang. Dia memilih jalannya sendiri, jalan sunyi di timur Indonesia. Dan aku di sini, terjebak di hutan beton yang bising.
Dengan tangan gemetar, aku mengklik [EXIT].
Layar kembali ke desktop. Program tertutup.
Aku membereskan barang-barangku. Memasukkan flashdisk Iron Man itu ke dalam saku tas bagian terdalam.
Mungkin suatu hari nanti aku akan membukanya lagi. Tapi tidak sekarang.
Aku berjalan keluar gedung kantor, menembus hujan Jakarta sendirian.
Kota ini ramai, tapi entah kenapa terasa sangat sepi.
Di Waktu yang Sama - sebuah Desa di Maluku
Malam di Desa begitu tenang.
Hanya ada suara ombak yang tak pernah lelah mencium bibir pantai, dan suara jangkrik yang bersahutan.
Di teras sebuah rumah kayu sederhana, seorang pemuda duduk bersila.
Di depannya ada laptop yang menyala, terhubung dengan kabel LAN yang menjuntai dari atas pohon mangga (tempat receiver sinyal dipasang).
Randhy Orion menyesap kopi hitamnya.
Matanya menatap layar. Ada notifikasi kecil di pojok kanan bawah aplikasinya:
User 'Candy_Jkt' has accessed the file.
Dhyo tersenyum tipis. Sangat tipis. Ada genangan air di sudut matanya yang buru-buru dia hapus.
"Sudah dibaca ya," gumamnya pelan pada angin malam.
Dia menutup laptopnya.
Lalu dia mendongak ke langit. Malam ini cerah. Rasi bintang Orion bersinar terang di atas sana. Gagah. Sendirian.
"Pak Guru Dhyo! Belum tidur?" sapa suara berat Dokter Raka yang lewat sepulang dari mengecek pasien di Puskesmas.
Dhyo menoleh, mengubah ekspresi sedihnya menjadi cengiran khas dalam sekejap.
"Belum, Dok. Lagi ngobrol sama bintang."
"Ah, dasar pujangga," Dokter Raka tertawa, lalu berlalu masuk ke rumah dinasnya.
Dhyo kembali sendiri.
Dia mengambil gitar tua miliknya. Memetik senar pelan. Tidak ada lagu yang dinyanyikan. Hanya nada-nada acak yang mewakili perasaannya.
Dia tahu pilihannya benar. Candy harus terbang tinggi di Jakarta. Dan dia harus mengakar kuat di sini.
Cinta tidak harus memiliki, kata orang bijak. Tapi Dhyo tahu, cinta itu tetap memiliki, hanya saja bentuknya berubah. Dari sepasang kekasih yang bergandengan tangan, menjadi sepasang doa yang saling menjaga dari kejauhan.
Dia mengambil napas panjang, menghirup udara desa yang bersih.
Besok pagi, dia harus mengajar koding untuk anak-anak SD.
Besok lusa, dia harus memperbaiki bug di sistem data kependudukan.
Hidup terus berjalan.
"Selamat tidur, Jakarta," bisik Dhyo lirih. "Tidur yang nyenyak, Nona Arsitek. Mimpikan aku sekali saja. Itu sudah cukup."
Lampu teras dimatikan.
Desa gelap, tapi hati Dhyo menyala. Redup, kecil, tapi menyala. Menjaga rindu itu agar tetap hidup, selamanya.
- TAMAT -
Catatan Akhir Penulis:
Begitulah akhirnya.
Kadang, cinta yang paling hebat adalah cinta yang merelakan.
Candy kembali ke dunianya. Dhyo tetap di dunianya.
Sedih? Iya.
Tapi begitulah realita. Kadang kita cuma dipertemukan untuk saling menguatkan sebentar, lalu berjalan masing-masing lagi ke depan.
Yang penting, ada rasa yang tulus di antara mereka. Dan rasa itu, tidak akan pernah hilang dimakan jarak, apalagi cuma dimakan waktu.
Lalu bagaimana kelanjutan kisah Dhyo dan Candy?
Gitu aja dulu ya,
Terima kasih sudah membaca kisah Dhyo dan Candy.
Jangan lupa senyum, nanti dikira sariawan.
Sampai jumpa.
0 Komentar